Story cover for Thoughts and Notes by meOla1311
Thoughts and Notes
  • WpView
    Reads 19
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
  • WpView
    Reads 19
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
Complete, First published Jun 19, 2020
Sebenarnya, menjadi manusia itu gak gampang. percaya deh. Kalian harus hidup berdasarkan pikiran, lingkungan, dan permasalahan. Ditambah lagi mempertimbangkan pembicaraan dan pemikiran orang lain tentang kita. Haduh. Ribet juga ya ternyata jadi manusia?


Bukan novel, cerita, puisi, quote, dan lain sebagainya. Hanya sebagian kecil pemikiran-pemikiran kompleks tentang kehidupan seorang manusia dan pikirannya. Bisa saja pemikiran kotor, pemikiran kreatif, pemikiran perubahan, dan lainnya. 

Untuk kamu yang mudah terombang-ambing pikirannya, permisi, mundur atau minggir dulu ya. Takutnya malah membuat sisi keegoisan kamu muncul. Kan gak lucu! hehe.

Udah ah, cus baca langsung aja. Cuma mau baca? monggo. Mau komentar setelah baca? monggo, lebih bagus. Asalkan jangan cuma lihat setelah itu komentar yang negatif, ya.

Salam,
All Rights Reserved
Sign up to add Thoughts and Notes to your library and receive updates
or
#722pikiran
Content Guidelines
You may also like
Tutorial Berpikir Benar untuk Pemula by Irwansight
51 parts Complete
Saat ada tsunami, kita nyari objek paling kuat untuk dipegangi. Karena kita berharap dengan memegangnya, kita bisa selamat. Saat berlayar di laut, melihat mercusuar adalah hal yang istimewa, karena dia penunjuk arah dan memberi isyarat bahwa kita sudah dekat dengan dermaga. Begitupun dalam berargumen, boleh saja kita ini awam, boleh saja kita ini bukan ahlinya, tapi kita wajib memegang referensi yang memiliki bukti valid terkait hal yang sedang dibahas, karena kita berharap adanya rasa aman setelah mengetahuinya. Kita juga bisa berargumen menggunakan referensi tersebut dengan baik tanpa emosi. Kenapa banyak orang yang tersasar di gurun lalu meninggal? Ya memang mereka kehausan dan kelaparan. Lalu apa alasan lainnya? Karena saat di gurun, mereka berpatokan pada gunung pasir tertinggi yang mereka lihat, kemudian mereka mencoba untuk menaikinya dengan harapan pandangan mereka jauh lebih luas dari sebelumnya. Tapi mereka tidak sadar bahwa sebelum sampai ke gunung pasir tertinggi itu, angin kencang telah menghembuskan pasirnya dan gunung yang dimaksudkan sudah tidak ada lagi, berpindah posisi ke tempat lain. Saat ia menuju ke gunung itu, angin berhembus kencang lagi, begitu seterusnya. Orang yang tidak bersumber pada referensi valid, ia seperti orang yang ada di gurun itu. Bedanya, orang di gurun mati fisiknya. Kalau dia, mati akalnya. Itulah gambaran yang bisa gw tulis untuk mengawali kata pengantar buku ini. Tanpa sumber referensi yang valid, kita akan terhembus kemanapun angin keributan itu berarah. Buku ini pastinya banyak kekurangan, karena ditulis oleh pemula. Karenanya, segala kritik dan saran yang membangun akan selalu ditunggu agar terpeliharanya ilmu pengetahuan yang bersih dan dapat diwariskan sebaik mungkin kepada generasi penerus bangsa (yang ga ada aplikasi tiktok di hapenya). Oh ya, gaya bahasa yang digunakan pada tiap bab akan berbeda, tergantung mood yang menyertai penulisnya.
You may also like
Slide 1 of 9
My Deepest Thought cover
pernah yang tak kan terulang kembali(love story from the author) cover
Just a memory~ (Lilipan012) cover
Putaverunt cover
Can I have u miss bae? cover
Tutorial Berpikir Benar untuk Pemula cover
Because I'm Stupid (End) cover
Karena Kamu Rumahnya  cover
Ratusan Hari Mencari Hati cover

My Deepest Thought

22 parts Complete

Tidak mudah membagi sisi terdalam dan terkotor sebuah pikiran. Tak ada yang mengerti seberapa menyebalkannya memendam semua pelik sendirian. Mudah untuk mengatakan: Kendalikan pikiranmu! Jangan biarkan pikiran mengendalikanmu. Tapi realitanya? Banyak orang tak memahami mekanisme otak dalam memproses jutaan stressor menjadi sebuah cacat pikiran. Lihat sekelilingmu, seberapa banyak orang mati karena terjebak dalam kepalanya sendiri? Jangan pernah berpikir menjadi salah satunya. Dan bagi penulis seperti kami, memuntahkan separuh pikiran ke dalam cerita adalah sebuah katarsis. Coba lihat, dan selami kepala kami lewat tulisan-tulisan ini. Dengarkan, dan rasakan!