Story cover for Butterflies by RedApple269
Butterflies
  • WpView
    LECTURAS 8
  • WpVote
    Votos 0
  • WpPart
    Partes 1
  • WpView
    LECTURAS 8
  • WpVote
    Votos 0
  • WpPart
    Partes 1
Continúa, Has publicado jun 19, 2020
jarak memang sempat membuat kita rekat, akrab memang sempat membuat kita saling menyimpan harap. terlalu banyak canda yang akhirnya menjadi candu, memimpikanmu malah menumpuk banyaknya ribuan rindu.

aku tak pandai mengutarakan rasa yang terpendam dalam balutan asa. hingga akhirnya, waktulah yang menentukan akhir cerita. aku minta maaf kepada hati, yang telah membuat salah satu mimpi mati.

aku sempat berjuang, hingga akhirnya malah semakin ganas diterjang gelombang. semakin deras terbawa arus, hingga membuatku lama-lama habis tergerus. Tenggelam dalam jurang gelap, sampai habis semua yang pernah kuharap.

kini kau hanya bagian dari alur waktu, yang sepatutnya memang tak kucandu sebagai rindu. Aku tak pernah mengira kau akan lebih memilih sinar matahari, ketimbang cahaya bulan dimalam hari. Kau lebih memilih terbang dilangit bersama mentari, ketimbang bertengger dengan sunyi malam hari.
Todos los derechos reservados
Regístrate para añadir Butterflies a tu biblioteca y recibir actualizaciones
O
Pautas de Contenido
Quizás también te guste
Quizás también te guste
Slide 1 of 10
Selepas Senja Pergi cover
Setulus Rasa Untuk Kehidupan cover
ENDING SCENE (JIMINX YOU) cover
Rintik jadi Luka cover
Andai bisa cover
Jenis Rasa cover
ROMANSA KATA cover
Barisan Penyesalan cover
RUMPANG RAMPUNG cover
KenSil (Kisah yang Belum Usai) ✓ cover

Selepas Senja Pergi

19 partes Concluida

Ardika dan Amira adalah dua orang yang bertemu di antara kebetulan-kebetulan kecil-sebuah kertas yang terbuang, sebuah sapaan sederhana di taman kampus. Tidak ada yang tahu bahwa pertemuan itu akan membawa mereka pada kisah yang lebih panjang dari sekadar percakapan ringan di bangku taman. Sampai Ardika akhirnya mengerti. Bahwa cinta tidak diukur dari seberapa lama seseorang tinggal, tapi dari bagaimana ia tetap hidup, bahkan setelah senja pergi. ... Di persimpangan jalan, Ardika berhenti. Menatap langit yang bersih tanpa awan, hanya bintang-bintang yang berkelip kecil, seolah mengamati langkahnya dari jauh. Ia tersenyum, lalu menutup matanya perlahan. "Cinta itu tidak menunggu untuk dimiliki," bisiknya kepada malam. "Ia hanya ingin dirayakan, meski pada akhirnya ia harus pergi." Sejenak ia diam, membiarkan hatinya yang bicara. "Aku menulis namamu di antara bintang-bintang, supaya aku tahu ke mana harus menatap ketika rindu. Aku bisikkan namamu kepada angin, supaya ia membawanya ke mana pun aku pergi. Aku simpan suaramu dalam detak jantungku, supaya aku bisa mendengarmu. Dan aku akan selalu mencintaimu, seperti angin mencintai laut, seperti malam mencintai bintang, tanpa perlu bertanya kapan harus berhenti, bahkan Selepas Senja Pergi."