Warmth is Present with Winter in Palembang

Warmth is Present with Winter in Palembang

  • WpView
    Lectures 10
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Chapitres 1
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication sam., juin 20, 2020
WpInfo
Fiction
Mystère
"Warmth is Present with Winter in Palembang", kehangatan hadir bersama musim dingin di Palembang. Suatu yang tidak mungkin jika ada musim dingin (salju) di Palembang, salah satu kota di Indonesia tepatnya provinsi Sumatera Selatan. Di mana Indonesia adalah negara beriklim tropis, terlebih untuk kota Palembang yang memiliki suhu udara rata-rata 30°c ke atas. Judul cerita yang begitu ambigu ini sangat menggambarkan bahwa memang sebuah kisah di dalamnya benar-benar membuat teka-teki besar bagi Rita akan perlakuan dari bang Haqim. Ketika membaca cerita tersebut, mungkin kalian akan mengetahui maksud dari judul tersebut. Satu persatu teka-teki akan terungkap, sama seperti judul yang akan diungkap nanti.
Tous Droits Réservés
#23
surprise
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Cinta Dalam Mekarnya Bunga
  • CAPTEN BASKET MILIK SASKIA [TAMAT]
  • Hi! kaladevara (HIATUS)
  • DIAFORETIKA (End)
  • Aksara Lingga
  • Frozen Heart [HIATUS]
  • Will You Be My Love Rain?
  • SAMANTHA
  • Don't Love for DEVIL'S (HIATUS)

Lila percaya bahwa cinta mirip bunga. Ia tak bisa dipaksakan untuk tumbuh. Ia butuh waktu, kehangatan, dan keberanian untuk mekar di tengah dunia yang kadang terlalu dingin. Hidup Lila selama ini sederhana, tenang, seperti angin pagi di antara deretan bunga matahari yang menghadap ke timur. Sejak kecil, ia hidup berdampingan dengan warna-warni kelopak dan wangi tanah basah. Ia merawat bunga seperti merawat dirinya sendiri-penuh kelembutan, tapi juga penuh kehati-hatian. Namun, ketenangan itu perlahan mulai retak ketika ia bertemu Arka. Arka datang seperti angin musim gugur: dingin, tak terduga, dan membawa sesuatu yang membuat dedaunan gugur satu per satu. Ia bukan pria yang datang dengan tawa lebar atau kata-kata manis. Ia hadir dengan sorot mata yang tajam, langkah yang berat, dan diam yang penuh rahasia. Lila bisa merasakannya-ada beban yang dibawa pria itu, sesuatu dari masa lalunya yang belum selesai. Pertemuan mereka terjadi begitu saja. Tanpa rencana, tanpa aba-aba. Arka sedang mencari bunga untuk seseorang yang telah tiada. Lila, seperti biasa, tengah menyusun rangkaian bunga mawar putih di toko kecil peninggalan ibunya. Tak ada yang istimewa, kecuali cara Arka menatap bunga seolah sedang berbicara pada sesuatu yang tak terlihat. Dan sejak saat itu, dunia Lila mulai berubah. Perlahan, kehadiran Arka menjadi bagian dari hari-harinya. Mereka tak banyak bicara, tapi diam mereka saling memahami. Lila menemukan kehangatan di balik dinginnya sikap Arka, dan Arka menemukan ketenangan dalam mata Lila yang jujur. Tapi cinta yang tumbuh di antara mereka bukanlah cinta yang mudah. Ia datang membawa ujian, luka lama, dan pertanyaan-pertanyaan yang tak selalu punya jawaban. Karena Arka tidak datang dengan hati yang utuh. Dan Lila bukan gadis yang bisa mencinta setengah-setengah. Mereka seperti dua bunga yang mekar di musim berbeda-saling mendekat, tapi takut layu sebelum waktunya.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu