RESAPI, HAYATI, DAN AKHIRI

RESAPI, HAYATI, DAN AKHIRI

  • WpView
    Reads 26
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jun 20, 2020
Pergulatan batin hati penulis yang membuncah dalam tatapan kosong tanpa ada makna yang terselubung dalam relung hati dan pikiran. Berawal dari keresahan yang setiap hari penulis harus merenungi. Agar memperbaiki kualitas dari. Meresapi setiap desahan napas ini. Sudahkah kita selalu bersyukur setiap hari? Paling banyak mana, banyak bersyukur atau banyak mengeluh? Itu setiap hari penulis selalu mengintrospeksi diri. Lebih banyak menghabiskan waktu yang tidak penting atau lebih menghabiskan waktu untuk berbuat kebaikan kepada orang banyak lagi. Ataupun sebaliknya. Mari kita berbenah diri dalam kehidupan ini. Itulah alasan yang penulis lakukan kenapa harus menulis judul seperti ini. Karena untuk memperbaiki diri sendiri.
All Rights Reserved
#396
renungan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • KETUK(ER)
  • Haruskah Mati? √PART LENGKAP [TERBIT]
  • MALVEN ALVITO [Terbit]
  • It's Okay, Kamu Normal !
  • LINTANG | E N D
  • Dear Renza [TERBIT]
  • Bawa Perubahan
  • Aku (hampir) Menyerah ✔️ | END
  • Letters for Self
  • Tutorial Berpikir Benar untuk Pemula
KETUK(ER)

[UPDATE: MONDAY] Ada yang bilang kalau hidup itu perkara memahat. Membentuk diri menjadi apa yang diinginkan. Dalam hal ini, pahat hati yang paling krusial. Kenapa? Karena semua dirasa pakai hati. Bahkan terkadang, berpikir juga pakai hati. Jadi, untuk kamu yang dulu dengan apik memahat hati hingga kini bentuknya terlihat begitu sempurna. Terima kasih. Kamu hebat sudah bisa sampai ke titik ini. Untuk kamu yang hingga saat ini masih bertahan dan berjuang tanpa lelah untuk memahat hati hingga bentuknya hampir terlihat sempurna. Semangat. Kamu sudah sejauh ini. Jadi, jangan menyerah. Untuk kamu yang baru saja mulai memahat hati, siapkan alat berjuang dengan apik. Karena memahat hati bukan perkara mudah. Bukan perkara sepele yang hanya butuh ucapan manis, tetapi juga aksi. Jangan sampai salah membaca. Ini kisah tentang pahat hati, bukan patah hati. Awas, jangan ketuk(er)! Namun, kisah ini tidak menjanjikan happy ending. Pun, tidak menjanjikan sad ending. Kenapa? karena itu tergantung pada mata siapa yang melihat. Kebahagian dan kesedihan itu sama dengan cantik dan tampan; relatif. Ini semua tergantung pada siapa yang menjadi pemahat dan hati siapa yang dipahat. Juga, alat apa yang digunakan. Kira-kira, komposisi bagaimana yang harus digunakan Sang Ketuk(er) agar bisa membentuk pahatan sempurna? Start: 14 Februari 2022

More details
WpActionLinkContent Guidelines