RESAPI, HAYATI, DAN AKHIRI

RESAPI, HAYATI, DAN AKHIRI

  • WpView
    Reads 31
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jun 20, 2020
WpInfo
Non-Fiction
Pergulatan batin hati penulis yang membuncah dalam tatapan kosong tanpa ada makna yang terselubung dalam relung hati dan pikiran. Berawal dari keresahan yang setiap hari penulis harus merenungi. Agar memperbaiki kualitas dari. Meresapi setiap desahan napas ini. Sudahkah kita selalu bersyukur setiap hari? Paling banyak mana, banyak bersyukur atau banyak mengeluh? Itu setiap hari penulis selalu mengintrospeksi diri. Lebih banyak menghabiskan waktu yang tidak penting atau lebih menghabiskan waktu untuk berbuat kebaikan kepada orang banyak lagi. Ataupun sebaliknya. Mari kita berbenah diri dalam kehidupan ini. Itulah alasan yang penulis lakukan kenapa harus menulis judul seperti ini. Karena untuk memperbaiki diri sendiri.
All Rights Reserved
#62
renungan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tutorial Berpikir Benar untuk Pemula
  • Letters for Self
  • [Non Fiction] Menjadi Lebih Baik
  • Menghargai Sebuah Tulisan ✓
  • Catatan Hafidza [✔️]
  • It's Okay, Kamu Normal !
  • Haruskah Mati? √PART LENGKAP [TERBIT]
  • Self Injury's(complete)✔
  • Dear Renza [TERBIT]

Saat ada tsunami, kita nyari objek paling kuat untuk dipegangi. Karena kita berharap dengan memegangnya, kita bisa selamat. Saat berlayar di laut, melihat mercusuar adalah hal yang istimewa, karena dia penunjuk arah dan memberi isyarat bahwa kita sudah dekat dengan dermaga. Begitupun dalam berargumen, boleh saja kita ini awam, boleh saja kita ini bukan ahlinya, tapi kita wajib memegang referensi yang memiliki bukti valid terkait hal yang sedang dibahas, karena kita berharap adanya rasa aman setelah mengetahuinya. Kita juga bisa berargumen menggunakan referensi tersebut dengan baik tanpa emosi. Kenapa banyak orang yang tersasar di gurun lalu meninggal? Ya memang mereka kehausan dan kelaparan. Lalu apa alasan lainnya? Karena saat di gurun, mereka berpatokan pada gunung pasir tertinggi yang mereka lihat, kemudian mereka mencoba untuk menaikinya dengan harapan pandangan mereka jauh lebih luas dari sebelumnya. Tapi mereka tidak sadar bahwa sebelum sampai ke gunung pasir tertinggi itu, angin kencang telah menghembuskan pasirnya dan gunung yang dimaksudkan sudah tidak ada lagi, berpindah posisi ke tempat lain. Saat ia menuju ke gunung itu, angin berhembus kencang lagi, begitu seterusnya. Orang yang tidak bersumber pada referensi valid, ia seperti orang yang ada di gurun itu. Bedanya, orang di gurun mati fisiknya. Kalau dia, mati akalnya. Itulah gambaran yang bisa gw tulis untuk mengawali kata pengantar buku ini. Tanpa sumber referensi yang valid, kita akan terhembus kemanapun angin keributan itu berarah. Buku ini pastinya banyak kekurangan, karena ditulis oleh pemula. Karenanya, segala kritik dan saran yang membangun akan selalu ditunggu agar terpeliharanya ilmu pengetahuan yang bersih dan dapat diwariskan sebaik mungkin kepada generasi penerus bangsa (yang ga ada aplikasi tiktok di hapenya). Oh ya, gaya bahasa yang digunakan pada tiap bab akan berbeda, tergantung mood yang menyertai penulisnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines