Feeling weird alone?

Feeling weird alone?

  • WpView
    Reads 10
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 21, 2020
Jika kamu merasa aneh dengan dirimu sendiri. Itu ada padamu. Kenyataan di mata orang-orang itu bahkan bisa berbeda dari apa yang ada dipikiranmu. Tp bukan berarti kita sedang self claim too fast. Bisa jadi self evaluation untuk diri kita. But, kawan. Let me tell you Keadaan seperti ini selalu terjadi pada semua makhluk hidup. Apalagi teman2 yang sedang berada di tahap stase remaja, young adult atau bahkan adult pun bisa terjadi. Dan itu besar dipengaruhi oleh kegiatan2mu, result dari kerjaan kita, relationship, teman2, outer respond, social respond atau bahkan yang lebih berbahaya dari cyberspace yang jika kita terlalu overusing sedang keadaan kita yang mudah terdistraksi, hal itu akan sangat memberikan pengaruh pada mental sebagian besar remaja dan young adult. Tapii ini tidak menutup kemungkinan usia2 lain tidak terjadi. Weird self assume. Bisa terjadi jika kita mendapat timbal balik yang tidak seperti yang kita harapkan. Thats general. Tapi bisa kita lebih spesialisasikan kembali. Bahwa hal itu bisa terjadi di keadaan apapun. Jika kamu interest, kita bisa diskusi bareng2. Semoga membantu!! Aku akan menulis ini jika senggang, meski in fact. Sedang sibuk menyusun skripsi hehe. Doakan yaa
All Rights Reserved
#16
weird
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tutorial Berpikir Benar untuk Pemula
  • Surat Cinta untuk Diriku Sendiri
  • Breathe
  • Self Injury's(complete)✔
  • Certainty [REVISI & TERBIT]
  • Mutualism Symbiosis
  • Paradise
  • [✔] Lean On Me || Nomin

Saat ada tsunami, kita nyari objek paling kuat untuk dipegangi. Karena kita berharap dengan memegangnya, kita bisa selamat. Saat berlayar di laut, melihat mercusuar adalah hal yang istimewa, karena dia penunjuk arah dan memberi isyarat bahwa kita sudah dekat dengan dermaga. Begitupun dalam berargumen, boleh saja kita ini awam, boleh saja kita ini bukan ahlinya, tapi kita wajib memegang referensi yang memiliki bukti valid terkait hal yang sedang dibahas, karena kita berharap adanya rasa aman setelah mengetahuinya. Kita juga bisa berargumen menggunakan referensi tersebut dengan baik tanpa emosi. Kenapa banyak orang yang tersasar di gurun lalu meninggal? Ya memang mereka kehausan dan kelaparan. Lalu apa alasan lainnya? Karena saat di gurun, mereka berpatokan pada gunung pasir tertinggi yang mereka lihat, kemudian mereka mencoba untuk menaikinya dengan harapan pandangan mereka jauh lebih luas dari sebelumnya. Tapi mereka tidak sadar bahwa sebelum sampai ke gunung pasir tertinggi itu, angin kencang telah menghembuskan pasirnya dan gunung yang dimaksudkan sudah tidak ada lagi, berpindah posisi ke tempat lain. Saat ia menuju ke gunung itu, angin berhembus kencang lagi, begitu seterusnya. Orang yang tidak bersumber pada referensi valid, ia seperti orang yang ada di gurun itu. Bedanya, orang di gurun mati fisiknya. Kalau dia, mati akalnya. Itulah gambaran yang bisa gw tulis untuk mengawali kata pengantar buku ini. Tanpa sumber referensi yang valid, kita akan terhembus kemanapun angin keributan itu berarah. Buku ini pastinya banyak kekurangan, karena ditulis oleh pemula. Karenanya, segala kritik dan saran yang membangun akan selalu ditunggu agar terpeliharanya ilmu pengetahuan yang bersih dan dapat diwariskan sebaik mungkin kepada generasi penerus bangsa (yang ga ada aplikasi tiktok di hapenya). Oh ya, gaya bahasa yang digunakan pada tiap bab akan berbeda, tergantung mood yang menyertai penulisnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines