We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
PROMISE
  • WpView
    Reads 10
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 22, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
hai:) aku Alvina Quinne Johns, keluarga ku sering memanggilku Quinne. Tapi teman sebaya ku memanggilku Vina. Ini adalah sepenggal dari cerita masa lalu ku bersama teman sekomplek rumah ku. Dia adalah Alvino Radendra. Tentangga ku yang sekarang tak tau dimana. Dulu dia meninggalkan ku di sini. Dia pergi bersama keluarga nya yang harus pergi karena ayahnya pindah tugas. Aku tak tau Dia dimana sekarang. Yang jelas, aku merindukannya. Sebelum pergi,dia memberiku sebuah kenangan kata nya,hehe. Sebuah gelang rajut yang khusus dibuat oleh bunda nya untukku. Dia berjanji akan menemuiku nanti,saat kami sudah dewasa. Tapi sejak saat itu dia tak pernah menemui ku ataupun memberi kabar pada ku. Aku sempat ingin melupakan nya,tapi aku tak bisa. Hingga suatu malam. Dia menelfon ku dan menyuruhku datang ke rumahnya, di Yogyakarta. Dan dari pertemuan ini,kisah ku dan dia dimulai kembali...
All Rights Reserved
#338
nana
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • TEOLOGI CINTA
  • Devon [END]
  • Aku Bukan Dia ( kita Berbeda )
  • Selamat Tinggal Luka (END)
  • From Family To Forever
  • I L A L A N G ✔ (Tamat)
  • Beautiful Sunset
  • HIGH SCHOOL ( END ).
  • Athalia Secret. |Sudah Terbit|
  • Sama tapi Berbeda [END]

Memilih jodoh tak seperti melempar dadu. Aku sudah super hati-hati, ketika akan memutuskan Ghani menjadi suamiku. Tetapi Tuhan punya rencana lain. Ketika Ghani dalam keadaan tak berdaya, koma dan amnesia. Aku jadi berpikir ulang. Semakin tak tega untuk mencampakkan begitu saja. Aku tak tahu, apa ini cinta atau bukan. Yang jelas rasa itu hadir mengikat hatiku. Ghani bagiku saat ini tak lagi seperti pakaian. Jika tak cocok, aku mengganti yang lain.Bahkan, hari demi hari aku tak ingin jauh darinya. Aku tak ingin sewaktu-waktu jika ia dipanggil-Nya, aku luput dari sisinya. Terkadang aku tak mengerti banyak hal tentang diriku sendiri saat ini. Sejak Ghani bernasib naas, aku merasa berdosa besar dan sulit untuk memaafkan diriku atas niat burukku dulu pernah menuntutnya bercerai. Kini, justru sebaliknya, aku seperti telah jatuh cinta untuk kedua kalinya, tanpa syarat, sampai tertawan, hingga berserah tanpa bisa melawan. Aku mengizinkan hatiku mengalir bersama keterbatasannya, tanpa alasan jelas, bahkan cenderung absurd. Ada rasa kasihan dan iba yang luar biasa. Seperti gaya percintaan kakek nenek yang telah menua dan renta. Terkadang kuberpikir apakah hubungan suami istri seperti ini yang ideal? Tak mudah lekang oleh pancaroba. Dibanding yang didasari hitungan untung-rugi dengan mengatasnamakan cinta? Yang tak kumengerti sampai saat ini, mengapa aku semakin takut kehilangan Ghani? Sampai aku tak mampu lagi mengindetifikasi perasaanku ke Ghani, apakah aku mencintai atau mengasihani?

More details
WpActionLinkContent Guidelines