Masapa
  • WpView
    Reads 140
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 11, 2020
Masih terbayang olehku bagaimana pahit dan dinginya malam itu.Malam dimana aku menyaksikan sendiri, bagaimana ayahku harus terbunuh dengan pisau yang menancap di dadanya.Hal yang paling menyedihkan aku hanya dapat melihat tanpa menolongnya.Malam itu aku sangat membenci ibuku yang mengajakku dan adikku yang masih bayi untuk meninggalkan rumah dan menuju desa kelahiran ibuku "MASAPA". Desa yang akan menjadi penuntun takdirku untuk mengungkap misteri kematian ayahku malam itu.Desa yang mengenalkanku pada inyiak, sosok harimau yang menjadi legenda di kampungku, tradisi aneh di setiap kematian, dan seluruh peristiwa lainya yang akan membuat kita makin percaya takdir selalu berada pada lingkaran yang sama dengan orang yang sama.
All Rights Reserved
#84
mistis
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Diary Of Rain [END]
  • Tumbal Mata
  • Rumah Bercat Putih
  • MY HUSBAND CEO[Completed]
  • Warisan Gandari
  • [ END ] Broken Shadow
  • BISIKAN IBLIS (NYAWA YANG TERGADAIKAN)
  • The Dark Side(END)

Aku beringsut berdiri dan berniat meninggalkan kamar ini secepatnya. Tapi tanganku dicekal olehnya dan langsung ku sentak dengan keras hingga terlepas. "Rain..." panggil Lano namun tak berniat ku hentikan langkah ini ataupun menoleh kebelakang. Namun ketika menyentuh kenop pintu, dua lengan kekar memelukku dari belakang. "Jangan pergi" hembusan nafas yang terasa panas menerpa kulit leherku yang terbuka. Aku memberontak dan memukul-mukul tangannya yang melingkar diperut "Lepas! Lepaskan!!!" teriakku dengan suara parau Bukannya melepas, Lano semakin mengeratkan pelukannya. Tenagaku terkuras habis, sebanyak apapun tenaga yang ku keluarkan untuk lepas dari kukungannya hasilnya tetap sama. Aku masih dalam dekapannya. "Aku benci kau Lano..." Pandanganku memburam seiring mata yang tertutup. Akhirnya aku menyerah dalam pelukannya. Disisa kesadaran aku mendengar suaranya yang nyaris seperti bisikan. "Maaf..."

More details
WpActionLinkContent Guidelines