We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
MENALU
  • WpView
    Reads 914
  • WpVote
    Votes 23
  • WpPart
    Parts 26
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Dec 6, 2021
WpInfo
Fiction
Science Fiction
Terkadang, hidup menjadi anak yang mempunyai kelebihan khusus di dalam bermain musik acap kali dipandang sebelah mata. Apalagi piawai dalam memainkan not musik yang begitu tabu ditelinga dan keras untuk didengar. Musik underground atau musik punk kerap dinilai negatif ditelinga Masyarakat. Menalu merupakan anak yang baik, memang pandai bermain musik dan memang menyukai musik cadas. "Musik apaan ini...??" "Berisikkk...!!" "Bisa dipelankan sedikit tidak, ganggu banget tau. Aku jadi tidak bisa konsentrasi" gumam Axel Menalu mencoba untuk merintis group band cadas, tapi selalu gagal. Karena memang minoritas kalangan sahabatnya menyukai aliran dangdut koplo, "Wasekk!! goyang dong" tukas Budi. Musik Underground memang kerap dipandang sebelah mata. Sangat kontra dimata masyarakat, dan kerap identik ekstrem kalau mendengarnya. Bahkan seramnya lagi ada yang bilang musik horor. "Minggirkan becak'e Cak Bas...!!"
All Rights Reserved
#2
tim3
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat
  • AKSARA (TAMAT)
  • Alexxa Or Clara [END]
  • AYUSHITA [END]
  • ECHA MY COLD ANGEL [END]
  • RAACA 'the power of takdir Allah '
  • THE CLIMB [Completed]
  • Rara [ Proses Penerbitan ]
  • From Injun To Renjun [ End ]

"Kamu harus mendapatkan nilai sempurna." Ucap papaku dengan suara tegas, seolah-olah aku tak punya pilihan selain menjadi sempurna di matanya. "Kamu harus selalu mengalah dengan kakakmu." Ucap mamaku tanpa ragu dan menuntut. Bagi mama, akulah yang harus mengerti kakak dan mengalah jika bertengkar dengan kakak entah kakak yang benar atau salah. "Ini semua salahmu! Andai saja aku tak memiliki adik sepertimu!" Ucap kakakku dengan mata penuh kebencian, seakan keberadaanku adalah kutukan yang merusak hidupnya. "Kakakmu itu sudah sangat menderita, jadi kamu harus mengerti dia." Ucap nenekku, seperti akulah yang membuat kakak semakin menderita. "kamu mah enak! kamu pintar dan punya orangtua kaya!! Ga ada yang kurang dari hidupmu." Ucap salah satu teman perempuanku dengan nada iri, tanpa tahu betapa sepinya hidupku. "kamu beda banget sama kakakmu ya. Kakak mu cantik banget, tapi kamu? Jelek parah." Ucap salah satu teman laki-lakiku sambil tertawa, seolah aku hanyalah lelucon menyedihkan di matanya. "Terima kasih... Kamu selalu menjadi pendengar yang baik." Ucap sahabatku dengan nada lembut, tapi entah kenapa kata-katanya terasa seperti pengingat bahwa aku hanya ada untuk mendengar, bukan untuk didengar. Lalu, kakek menatapku. Matanya teduh, penuh kasih, berbeda dari yang lain. "Apa kamu benar-benar baik-baik saja, cucuku?" Ucap kakekku, satu-satunya suara yang terdengar tulus di antara semua itu. Aku ingin menangis. Aku ingin berteriak bahwa aku tidak baik-baik saja. Aku ingin mengatakan bahwa aku lelah, bahwa aku tak tahu harus bagaimana lagi. Tapi aku tersenyum lebar pada kakekku. Aku menahan air mataku agar tak jatuh, karena aku tahu... air mata tidak akan mengubah apa pun. "Aku baik-baik saja." Ucapku dengan nada ceria yang ku paksakan, seperti biasa. • Hasil karya sendiri • bahasa baku dan non baku • maaf kalau ada kesamaan tempat, nama, dsb dalam cerita *** Happy_Reading ***

More details
WpActionLinkContent Guidelines