Story cover for RAVABIA by Uh100404
RAVABIA
  • WpView
    LECTURAS 21
  • WpVote
    Votos 6
  • WpPart
    Partes 2
  • WpView
    LECTURAS 21
  • WpVote
    Votos 6
  • WpPart
    Partes 2
Continúa, Has publicado jun 24, 2020
"Lo bisa bohongin semua orang, tapi lo gak bisa bohongin diri lo sendiri tentang keadaan lo sekarang." Chika menoleh dan menatap Adra setelah ia menghapus air matanya.

"G...gue kuat ko, g..ue bisa ng...ngejalanin i..ini semua." Ucap Chika sesegukan sambil tersenyum menahan luka.

"Gue ngerti lo itu kuat, tapi kekuatan yang lo punya itu cuma topeng yang lo pake buat nutupin kalou sebenernya lo itu rapuh." Ucap Andra sambil menunjuk Chika.

Chika diam mematung, seketika air matanya jatuh lagi, Chika tak kuat menahan semua ini lagi. Andra menarik Chika kepelukannya membuat chika menangis di dadanya.

"Lepasin semuanya."



HAPPY READING
Atribución Creative Commons (CC)
Regístrate para añadir RAVABIA a tu biblioteca y recibir actualizaciones
O
#293chika
Pautas de Contenido
Quizás también te guste
Preman Sekolah Jatuh Cinta (PINDAH KE DREAME) de BetaRizki
6 partes Concluida
Tepat di depan mata. Raiya seakan membeku disana, matanya nggak terlepas dari mobil yang baru saja terlempar tepat di depannya. Entah kenapa keadaan seolah semakin mendramatisir, hujan turun dengan derasnya sore itu, memadamkan api yang berasal dari ledakan mobil di depannya. Suara sirine ambulans saling bersautan dengan suara sirine mobil polisi, keadaan semakin kacau. Beruntung, yah Raiya bersyukur seseorang yang berada di dalam mobil itu sudah diselamatkan sebelum mobil meledak. Dan seketika itu pula, tubuh Raiya langsung limbung terjatuh begitu saja, isakan tangisnya semakin jelas terdengar meski di bawah guyuran hujan. Satu patah kata pun nggak bisa terucap, ingin sekali dia menghampirinya yang sudah berada di mobil ambulans, tapi kakinya masih saja membeku di tempat. Hanya sesak yang terasa. "Kak Chi-ko ...." "Dia nggak akan kenapa-kenapa! Ayo Ray, gue anter pulang sekarang!" ajak paksa seseorang yang sudah berdiri sejak tadi di belakang Raiya, tapi Raiya hanya bergeming. Seseorang itu samasekali nggak menduga kalau hal semacam ini akan terjadi. Liontin yang ada di genggamannya seketika terlepas begitu melihat mobil lamborgini hitam yang sangat dia kenal terlempar begitu saja di depan Raiya. Dia dekap Raiya ke pelukannya, menatap nanar ke mobil yang sudah nggak berwujud itu. Hanya satu yang ada di pikirannya saat itu, penyesalan. "Kak Chiko, itu Kak Chiko, nggak, nggak, itu bukan Kak Chiko, pasti itu bukan Kak Chiko, dia bukan Kak Chiko!"
Quizás también te guste
Slide 1 of 10
Preman Sekolah Jatuh Cinta (PINDAH KE DREAME) cover
Hanya Permainan?  cover
ASMARALOKA || Love or Reality?  cover
Perkara Cinta Yumna cover
Still You cover
Milka's Destiny {On Going} Belum Di REVISI cover
Ijinkan Aku Kembali (Chikara) END cover
(✓) I Love You Ghost! ; Chikara cover
TUBUH GADIS NERD [END] cover
Loving in silence  cover

Preman Sekolah Jatuh Cinta (PINDAH KE DREAME)

6 partes Concluida

Tepat di depan mata. Raiya seakan membeku disana, matanya nggak terlepas dari mobil yang baru saja terlempar tepat di depannya. Entah kenapa keadaan seolah semakin mendramatisir, hujan turun dengan derasnya sore itu, memadamkan api yang berasal dari ledakan mobil di depannya. Suara sirine ambulans saling bersautan dengan suara sirine mobil polisi, keadaan semakin kacau. Beruntung, yah Raiya bersyukur seseorang yang berada di dalam mobil itu sudah diselamatkan sebelum mobil meledak. Dan seketika itu pula, tubuh Raiya langsung limbung terjatuh begitu saja, isakan tangisnya semakin jelas terdengar meski di bawah guyuran hujan. Satu patah kata pun nggak bisa terucap, ingin sekali dia menghampirinya yang sudah berada di mobil ambulans, tapi kakinya masih saja membeku di tempat. Hanya sesak yang terasa. "Kak Chi-ko ...." "Dia nggak akan kenapa-kenapa! Ayo Ray, gue anter pulang sekarang!" ajak paksa seseorang yang sudah berdiri sejak tadi di belakang Raiya, tapi Raiya hanya bergeming. Seseorang itu samasekali nggak menduga kalau hal semacam ini akan terjadi. Liontin yang ada di genggamannya seketika terlepas begitu melihat mobil lamborgini hitam yang sangat dia kenal terlempar begitu saja di depan Raiya. Dia dekap Raiya ke pelukannya, menatap nanar ke mobil yang sudah nggak berwujud itu. Hanya satu yang ada di pikirannya saat itu, penyesalan. "Kak Chiko, itu Kak Chiko, nggak, nggak, itu bukan Kak Chiko, pasti itu bukan Kak Chiko, dia bukan Kak Chiko!"