Deep
  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Aug 25, 2020
Melvy, baginya melihat sesuatu yang tidak dapat di lihat orang lain adalah hal yang biasa, amat sangat biasa bagi seorang indigo. Paranormal? Sebut saja begitu jika kau ingin cari masalah. Kemampuan ini adalah sesuatu yang tidak ia syukuri. Tapi takdir menyeretnya ke dalam sebuah skenario, dengan ia sebagai pemeran utamanya. Merepotkan saja, Melvy lebih suka menutup mata. Baik arwah, hantu, ketempelan ataupun kerasukan apalah itu. Melvy tidak peduli. Milly, seorang gadis dengan bercak darah pekat di sekitar sepatunya. Hidup di dunia khayal untuk terus menangis. Ia hadir dalam skenario ini juga sebagai pemeran utama. Zona nyamannya adalah jalan terbaik baginya. Skenario ini memaksa Milly membuka mata, jauh dari zona nyaman khayalannya. Lantas, sebenarnya ini pentas siapa? Melvy yang ditarik ke dalam kehidupan Milly, atau Milly yang di tarik ke dalam kehidupan Melvy? "Gue gak percaya adanya kebetulan, dan gue gak peduli dengan apapun tentang kebetulan. Walaupun seluruh tubuh lo penuh darah pun gue gak peduli. Tapi satu hal, gue percaya akan adanya janji. Gue kenal sama lo pun karena sebuah janji, Milly"
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • PERFECT BAD COUPLE (TERBIT)
  • THE GHOST DETEKTIVE
  • Vengeance
  • RALILAC
  • Fierce Love
  • MISTERY KEMATIAN CLARA (SELESAI)
  • Kutukan Tumbal
  • Hana's Indigo (True Story) ( Repost Ulang Sampai Tamat )

Beberapa detik tatapan mereka beradu. Athur menajamkan tatapan saat Milla terus menatap matanya. "Jangan berani tatap gue!" "Kenapa? Mata lo sakit?" Bukan mundur. Milla malah semakin maju. "Jangan lihat mata gue!" tegas Athur memalingkan wajah. "Oo jadi lo itu sakit mata? Atau mata lo ada beleknya ya? Dih jorok." "Diam!" Milla tersenyum menantang. Ia pindah posisi di depan Athur sehingga cewek itu semakin leluasa menatap mata Athur. Milla mempertajam penglihatan. Ia penasaran, memang ada apa di mata Athur. "Mata lo baik-baik aja. Gak merah tuh," ucapnya bak seorang dokter spesialis mata. Athur menunduk menatap mata Milla penuh amarah. "Minggir." Satu kata keluar penuh penekanan. Bukan Milla jika segera mundur saat ada hal yang menyenangkan. Milla malah semakin maju dan menatap mata beriris hitam pekat itu. "Jangan-jangan mata lo katarak ya. Atau malah mata lo punya virus menular jadi orang lain gak boleh lihat mata lo," ucap Milla bernada berlebihan. Sampai-sampai ia membelalakan mata, membuka mulut serta meletakkan kedua tangan di pipi. Emosi yang sejak tadi Athur kendalikan kini sudah di ujung tanduk. Baru kali ini ada orang yang berani menatap matanya. Bahkan sedekat ini. Apalagi baru kali ini kata-kata dingin Athur tidak mempan. Saat semua orang menunduk ketika Athur mengedarkan pandangan. Milla berbeda. Saat semua orang takut untuk berbicara dengan Athur. Milla berbeda. Dan saat semua orang diam ketika Athur berbicara. Milla berbeda. Tatapan Athur lurus pada mata Milla. "Gue akan buat lo nyesel berani tatap mata gue!" tegasnya bernada mengancam.

More details
WpActionLinkContent Guidelines