Ini...... bukanlah kisah bahagia, seperti sinar rembulan yang menerangi gemerlapnya malam.
Bukan pula seperti matahari yang memberi sinar kebermanfaatan pada penduduk bumi.
Ini....kisah yang sungguh berbeda.
Yang dimana seorang yang memiliki faktor paling utama dalam relug sang anak, namun mereka tak bisa di jadikan tiang sebagai sandaran. Tak bisa pula di jadikan sumber semangat.
Ia adalah, Ayah dan Ibuku.
Ayahku, tak sama seperti rembulan yang akan bahagia memberikan cahayanya untuk menerangi gemerlapnya malam. Akulah gemerlap malam itu. Hidupku sungguh kelam, tak bercahaya, jauh dari pancaran sinar hidayah.
Mungkin....inilah jalan takdirku. Segala ketetapan yang seharusnya, aku menapakinya dengan hati yang lapang. Meski awalnya aku merasa hidup ini sungguh tak adil, namun aku sekarang mengerti bahwa segala sesuatu yang telah Allah tetapkan, adalah yang terbaik untuk ku. Karena, hanya Allah lah yang maha mengetahui. Allah yang maha tahu apa yang terbaik untuk setiap para hambaNya.
Kini yang harus aku lakukan adalah, menerima segalanya dengan hati yang ikhlas, hati yang lapang, dan penuh dengan kepasrahan diri terhadap ia yang maha menguatkan. Mengadu kepada ia, yang maha mendengarkan. TanpaNya...diri ini pastilah rapuh, tanpa kasih sayangNya, diri ini pastilah tak akan pernah mampu setegar ini untuk menerima ketetapan yang telah ia gariskan dalam hidupku.
Hidup di dalam sekeliling orang-orang yang tak mendukung akan perubahanku, hidupku penuh dengan hinaan, cacian, dan juga kekangan.
Semua adalah sinar kelam yang menyorot hidupku, semenjak aku memilih pilihan baru.
Memilih pilihan yang sama sekali tak di setujui oleh kedua orang tua ku.
Namun, aku selalu percaya, bahwa takdir ini....sungguh yang terbaik buatku. Takdir yang akan selalu aku kenang selama sejarah deru napasku di dunia. Takdir yang telah Allah susun sangat indah dan begitu rapinya untukku.
Yang aku inginkan adalah, taat bersamamu, Ayah dan Ibu.
🌷 25-Juni-
Sebuah pertanyaan.
Bagaimana caranya untuk bahagia?
.
.
.
Seorang perempuan yang hidup tanpa kebahagaiaan, kini mendapatkannya dengan mudah. Caranya? Tidak ada.
Kebahagiaannya itu lenyap seolah ditelan bumi sejak ia lahir dan membuka matanya. Kehidupannya yang miris sungguh sangat disayangkan. Tapi, satu kejadian yang ia anggap itu adalah awal kebahagiaannya adalah...
Saat ayahnya sendiri yang mengambil nyawanya.
Sebuah kebahagiaan yang perempuan itu dapatkan sekian lama, akhirnya lenyap lagi karena suatu hal yang kembali terulang.
Dalam mimpinya, seorang gadis memberinya harapan dengan hidup bahagia bersama orang-orang yang akan mencintainya. Tapi itu pun kembali lenyap seakan kebahagiaan enggan untuk dimiliki oleh perempuan itu.
• • •
Apakah kehidupan keduanya ini bisa menebus penderitaannya?
Jika bisa, bagaimana cara mempertahankannya?
Dan jawabannya selalu, TIDAK.
• • •
" Katanya, kebahagiaan tidak bisa terus dimiliki. Layaknya roda berputar, semua hal bisa didapatkan, meski itu hal yang tidak diinginkan. Semua hal yang didapatkan tidak akan selalu hal baik. Baik di dunia manapun, hal baik tidak selalu tetap. Itu bukanlah hal yang kekal. Tidak perlu juga mencari apa itu kebahagiaan dan bagaimana cara mendapatkan kebahagiaan. Karena saat mensyukuri semua yang kita miliki, saat itu juga kita akan merasakan kebahagiaan dengan cukup." Ucap seseorang yang sudah terbiasa menerima kebahagiaan selama hidupnya dan tidak pernah tahu apa itu kesengsaraan.
.
.
.
⚠️⚠️⚠️
→Cerita ini murni hasil imajinasi saya sendiri❗
→Tidak menerima plagiarisme dalam bentuk apapun❗
→Mohon maaf jika mungkin ada beberapa kata yang kurang tepat atau salah pengetikan, dan juga mungkin ada kesamaan dalam nama atau watak karakter.
⚠️⚠️⚠️
♡♡♡