Bagaimana rasanya, ketika orang yang sangat kau sayangi pergi begitu saja, tanpa sebuah alasan, tanpa sebuah kata perpisahan. meninggalkan sejuta pertanyaan.
Seiring berjalannya waktu, raga belajar melupakan, semuanya bisa terhapus, luka bisa sembuh, namun kenangan akan masih tetap selalu ada.
Secangkir kopi menjelaskan, Aku dapat menikmati setiap teguknya, tanpa peduli rasa pahitnya, karena kecewa, manis, dan pahit, semuanya melebur menjadi satu.
Pada akhirnya nanti kau akan terjebak dengan pilihan menyebalkan. Belajar mengikhlaskan, tetap bertahan mencari kebenaran, atau pergi dengan orang baru sebagai pelarian.
Akan banyak sekali cerita jatuh sebelum bangkit.
Bagaimana caranya untuk bangkit?
Semuanya akan terjawab mulai dari sini.
Andai engkau tak berani melangkah, andai engkau menyerah tanpa mencoba untuk berjuang, mungkin kau tak akan tahu takdir indah yang sudah menunggu didepan sana.
Terkadang kemungkinan-kemungkinan yang diciptakan pikiran, membuat hati yang berani lantas mendermakan kemundurannya. Itu kenapa penyesalan akan datang, setelah kesempatan yang kamu lewatkan begitu saja.
Teruslah berdoa, dan jangan lelah melangitkan harapanmu. Walau jalan yang dilalui tak mudah, walau sakit mendera dada. Namun tetaplah percaya, bahwa ada keindahan yang sudah dipersiapkan sedemikian rupa baiknya untukmu.
Kau boleh menangis, bahkan kau boleh memaki, asalkan dirimu merasa lega dan kembali berjuang setelahnya. Berjuanglah dengan diiringi keikhlasan dan rasa syukur yang besar. Karena ketika kamu dihadapkan dengan kegagalan, hatimu, pikiranmu dan dirimu siap untuk menerima segalanya.
Menghangatlah dikehidupan yang sedingin kutub utara. Jadilah penyejuk untuk siapapun orang yang kamu temui. Ukirlah kisah dan sabdakanlah kebaikan, hingga beban dan amarahmu hanya berpusat pada daun kering yang terjatuh ke tanah.