HILIR
  • WpView
    Leituras 347
  • WpVote
    Votos 37
  • WpPart
    Capítulos 4
WpMetadataReadEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização ter, out 6, 2020
Setelah sampai di SPBU, mereka harus mengantre. Tersisa dua motor di depannya. Melihat mbak-mbak di depannya turun. Hilir juga ikut turun. "Lir, kenapa turun?" tanya Oka bingung. "Hah?" Hilir pun ikut bingung. Lalu, Oka menunjuk tangki motor yang berada di depannya. Mbak-mbak yang berada di belakang Oka tertawa kecil melihat Hilir.
Todos os Direitos Reservados
#622
tzuyu
WpChevronRight
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • [satzu] heart strength [End]
  • Love's Serendipity
  • I LOVE SEBLAK
  • Sebuah Sesal | SeungSung
  • REYGARAN - END
  • Love Or Friend ▶ Wannaioi { END }
  • ASRAMA LANTAI 7 {TERBIT} ✓

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo