Benci Jadi Sayang

Benci Jadi Sayang

  • WpView
    Reads 24
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 30, 2020
"Bangun Ja, Kamu bukan Cowo yang lemah kaya gini! Bangun Ja!!" Ujar seorang wanita sebari Menangis dan memeluk seorang pria yang Koma di Rumah sakit Perlahan Mata pria itu terbuka yang membuat semua orang yang ada di ruangan itu antusias "Nazwa.." Nazwa adalah nama Yang pertama disebut Oleh pria itu setelah Melewati Koma selama 2 Minggu "Aku Tahu Ja!! Kamu pasti kuat Ja!! Kamu pacar aku Ja.. jadi kamu pasti kuat!!" Ucap Wanita itu Sebari terus menggenggam Tangan pria itu "Naz.. Ka-mu pasti ba-kal dapet Pria Ya-ng lebih da-ri Raja.." Ucap Pria yang Bernama Raja itu Sebari Terbata bata "Ga.. Ja Enggak!! Aku ga mau yang lain, aku mau Raja!!! Kamu kuat Ja!!!" Wanita yang disebut Nazwa oleh Raja itu terlihat semakin mengeluarkan air mata "Ini.. udah tak-dir Naz.. Ra-ja ditakdirkan untuk Ja-di pendamping ka-mu cuman sesaat, Dan ka-mu pasti ba-kal dapet yang le-bih Baik dari Ra-Ja" Sesudah Raja mengatakan itu Kepala raja langsung terjatuh ke sebelah kanan dan terlihat garis Lurus di EKG (Mesin pendeteksi Aktivitas Jantung Seketika suara Teriakan dan tangisan Bermunculan di ruangan itu
All Rights Reserved
#731
dewa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jejak wasiat kakakku
  • {END} SUAMIKU ADA TIGA ||_K.V
  • THE TWINS
  • Keluarga Gledek • BTS & TXT
  • AFTER WEDDING - TERBIT
  • I L A L A N G ✔ (Tamat)
  • ARTAN
  • Dari Meja Sebelah
  • Nathalia
  • Bad Girl Vs Bad Boy  ( END ) Kookv GS

Namaku Alya. Dan aku tidak pernah menyangka bahwa langkah kakiku suatu hari akan menggantikan jejak perempuan paling kuat yang pernah aku kenal: kakakku, Alisa. Sudah hampir setahun aku tinggal di rumah besar bercat abu muda itu, rumah yang dulunya hanya aku singgahi saat libur semester atau ketika merindukan masakan kakakku. Tapi sejak Alisa divonis kanker paru-paru stadium lanjut, rumah itu menjadi dunia baruku. Aku memilih cuti kuliah, meninggalkan kosan kecilku di Jogja, dan kembali ke kota ini-demi merawatnya. Aku masih ingat hari ketika pertama kali datang kembali ke rumah itu. Anak-anak Alisa, Rani dan Dafa, langsung berlari memelukku. Rani sudah kelas dua SD, dan Dafa masih TK. Mereka belum tahu betapa besar badai yang sedang menunggu kami semua. Dan di tengah rumah itu, ada sosok pria yang paling jarang bicara: Rayhan. Suami Alisa. Kakak iparku. Ia selalu tenang. Terlalu tenang, bahkan saat Alisa harus masuk rumah sakit untuk ketiga kalinya bulan itu. Ekspresinya nyaris tidak berubah-datar, kaku, dan kadang membuatku bertanya-tanya apakah ia benar-benar mencintai kakakku atau hanya hidup berdampingan karena kebiasaan. "Mas Rayhan, teh hangatnya," kataku malam itu, sambil meletakkan cangkir di meja. Ia hanya menoleh sekilas. "Makasih." Lalu kembali tenggelam di balik layar laptopnya. Begitulah Rayhan. Ia tidak pernah kasar, tidak pernah marah, tidak pernah meninggikan suara. Tapi juga tidak pernah benar-benar hadir. Ia adalah tipe laki-laki yang, entah kenapa, membuat dada terasa sesak hanya karena terlalu hening. Sementara itu, kondisi Alisa kian memburuk. Berat badannya turun drastis, rambutnya mulai rontok karena kemoterapi, dan batuknya sering berdarah. Tapi ia tetap tersenyum. Tetap berusaha mencatat tugas-tugas sekolah Rani, tetap memeluk Dafa sebelum tidur. Suatu malam, saat aku menemaninya di kamar, Alisa mem

More details
WpActionLinkContent Guidelines