"Assalamu'alaikum," ucapku pelan saat melangkah masuk ke dalam rumah. Tanpa sengaja, bahuku menyenggol pundak kakakku.
"Oh, jadi begitu ya sikapmu sebagai adik? Masuk rumah langsung nyelonong aja? Kamu nggak pernah diajarin sopan santun ya? Atau kamu emang nggak lihat? Ah iya, aku lupa... kamu kan buta!" katanya dengan nada tajam. Tatapannya tajam, matanya memerah-seolah aku telah melakukan kesalahan besar yang tak termaafkan.
Tiba-tiba, dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipiku. Rasanya panas, perih, dan menusuk. Air mataku jatuh tanpa bisa ku tahan. Dengan kepala tertunduk, kupegang pipiku yang kini berdenyut ngilu. Tak pernah kusangka, seorang kakak laki-laki bisa setega itu pada adiknya sendiri.
"Jawab! Jangan cuma diam!!" bentaknya lagi. Urat lehernya menegang, suaranya penuh amarah. Dia berbicara seolah semua ini adalah kesalahanku, seolah aku sengaja memicu amarahnya.
Dengan suara bergetar dan napas tersendat karena tangis, aku menjawab,
"Aku nggak sengaja, Kak... Dan asal Kakak tahu, aku pernah diajari sopan santun itu-oleh Ibu dan juga oleh Kakakku. Tapi sekarang, mereka yang dulu mengajariku, justru berubah. Mereka bukan lagi orang yang aku kenal dulu..."
Air mataku terus mengalir, deras seperti tak ingin berhenti.
---
Penasaran kelanjutannya?
Yuk langsung baca ceritanya sampai habis!
Jangan lupa kasih bintang ya 🌟🌟🌟
😘😘😘
Terima kasih atas dukungannya!
All Rights Reserved