Malam itu, takdir merampasnya secara paksa ke dalam gelap. Membawa serta tawa, janji, dan masa depan yang bahkan belum sempat dirangkai. Menyisakan sunyi dan tanda tanya yang terkunci rapat bersama dasar jurang yang telah direkayasa gulita. Kematian rupanya bukan akhir dari sebuah wajah, ketika hal terdahulu justru memicu dendam lewat raga yang salah. Di situlah masa lalu terbukti tidak pernah benar-benar usai, ia hanya bersembunyi. Dunia seorang gadis seketika jungkir balik saat sosok yang mengguncang jiwanya mendadak hadir kembali, membawa tatapan yang sama dan rahang serupa, tetapi menyimpan jiwa asing dan ingatan yang kosong terkubur asap api. Ia adalah badai tanpa ingatan, pemuda itu lahir dari abu mobil yang terbakar, mengenakan topeng takdir yang bukan miliknya. Ia tidak tahu bahwa wajahnya yang sekarang adalah kutukan. Ia hidup di atas sisa reruntuhan orang lain, dengan membawa bara cinta. Apakah ia benar-benar kembali untuk pulang? Sebab, singgah bisa berarti menemukan rumah, atau justru sekadar pelarian sebelum pergi lagi. Ternyata di balik semua itu, ada dendam lama yang belum tuntas. Pembalasan masa lalu perlahan merayap di sudut sekolah, diselingi intrik sosial yang menuntut keadilan masa lampau. Peretasan digital gelap mulai membongkar rahasia yang membusuk di balik bayang-bayang. Di antara teror kelam yang dirajang rapi oleh dendam, seorang gadis terjebak dalam dilema paling menyiksa. Benih-benih perasaan mulai tumbuh di atas puing-puing kebohongan. Apakah ia sedang mencintai jiwa yang baru, atau sekadar memeluk luka lama yang singgah di raga yang salah? Ketika rahasia terbongkar dan topeng-topeng mulai runtuh disertai kepingan memori yang mulai tertata lagi, mampukah cinta bertahan dan terus menetap di tengah dendam yang mematikan? Atau takdir memang hanya membiarkan mereka singgah sebentar untuk saling melukai? Namun, kini bukan lagi tentang siapa yang sanggup bertahan dan tinggal. Melainkan, siapa yang sedang menunggu di ujung kehancuran?
More details