ARMADA

ARMADA

  • WpView
    Reads 4
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 29, 2020
Tak ada yang mengerti tentang apa yang selalu di lakukannya. Semua orang menganggapnya gila, bahkan kedua orangtuanya sendiri. "Kau ... apa yang kau lakukan?!" bentak ayahnya ketika melihat Jamet, sedang menggabungkan berbagai macam bangkai hewan menjadi satu. "Anak kita penganut setan, Yah ...." lirih ibunya yang menangis melihat kegilaan Jamet. Jamet hanya berlari sembari membawa bangkai hewan itu ke kamarnya. Ia takut dengan Sang Ayah yang selalu memukulinya. "Buka! Buka pintunya, Jamet! Kau benar-benar memalukan nama keluarga! Akan ku hajar kau anak bodoh!" murka Ayahnya sambil menggedor-gedor pintu kamar. Jamet hanya menangis ketakukan mendengar ancaman Ayahnya dari balik pintu. Aroma busuk dari bangkai yang di rakitnya itu, sungguh mencemari nama baik keluarga mereka. 'Gila', adalah julukan untuknya saat ini. "Tenang ... te-tenang ... semuanya pasti berhasil ..." lirih Jamet sembari menangis melihat bangkai rakitannya. Namun, semua berubah ketika ada sesosok makhluk yang datang dan memberikan uluran tangan padanya. Bukan Iblis, Setan, Jin atau apapun itu. Seperti yang pernah Albert Einstein katakan : 'Alam semesta terlalu besar, untuk di dominasi oleh manusia saja.'
All Rights Reserved
#70
ilmiah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Maaf (Sequel Off T.A.A.O) | SELESAI REVISI
  • ECCEDENTESIAST (COMPLETED)
  • RavAges
  • SELA ta KEY [END]
  • Promise or Leave
  • Bumi ; The Hurt
  • MIRROR DEVIL
  • Moonlight [ REVISI ]
  • VENATOR OBSCURUS

SELESAI REVISI | CERITA SELESAI | PART LENGKAP --- "Damar! Lepasin aku!" "Fabian itu siapa, hah?! Kenapa kau akrab banget sama dia?!" "Dia cuma teman, Damar! Lepasin aku!" "Cuma teman?! Kau pikir aku bodoh?!" "Da-Damar... Apa yang kau lakukan?!" Namun Damar sudah tenggelam dalam emosinya. Jemarinya merobek paksa kancing kemeja gadis itu, satu per satu kancingnya beterbangan ke lantai. "Jangan! Damar, tolong!" Air mata Chelsie mengalir, tapi tangannya tak mampu menahan dorongan kasar lelaki itu. Semua terjadi begitu cepat. Suara gesekan kain, tubuh yang meronta, air mata yang mengalir tanpa henti. Dan akhirnya... semuanya hancur. Keheningan yang menyesakkan memenuhi ruangan setelah semuanya berakhir. Nafas Damar masih terengah, tubuhnya kaku, jari-jarinya masih mencengkeram sprei yang berantakan. Baru saat itu ia sadar... apa yang baru saja ia lakukan? Di depannya, Chelsie terdiam dengan tatapan kosong. Roknya sudah tersingkap, kemejanya terbuka berantakan, dalamannya entah ke mana. Air mata terus mengalir, membasahi pipinya yang pucat. Damar menatap tangannya sendiri, seolah baru sadar bahwa jemari itulah yang telah merusak segalanya. Ia mencoba mendekat, tapi Chelsie tiba-tiba menjerit dan melempar benda apa pun yang ada di dekatnya-bantal, gelas, bahkan jam meja yang nyaris mengenai kepala Damar. "Pergi! Jangan sentuh aku! Dasar monster!" Suaranya pecah dalam raungan penuh kebencian dan luka.

More details
WpActionLinkContent Guidelines