Wisuda Cinta Kang Akhy

Wisuda Cinta Kang Akhy

  • WpView
    Reads 15
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 11, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
"Na, sudah skripsi kita resepsi yuk" ucap sontak pria di sampingnya sambil menatap grobak es di depannya "haahhh?? Maksudnya sama aku" tanya Aina heran. "yaiyalah, emangnya kamu nyaman ya. kita temenan tapi gak halal halal temenannya...apa kamu gak ngerasa berdosa?" jawabnya dengan enteng. Aina hanya diam, tanpa suara. kenapa dia baru bilang sekarang tentang hal ini. Padahal Aina lebih tersiksa karena menahan perasaannya yang sudah lama............
All Rights Reserved
#160
istiqomah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • 90 Hari Selingkuh
  • ALA
  • Senja Assyifa [COMPLETED]
  • The Stories (COMPLETED)
  • Karena-Nya Kita Ada [ON-GOING]
  • Jodoh Pilihan Abi
  • Assalammualaikum, Ustadz [END]
  • Ketetapan Cinta Dari-Nya [END]
  • Pahala Surgaku✓
  • (menuju) Jodoh Halalku [TAMAT]

"Aku lelah menjadi orang lain hanya agar dunia merasa aku cukup beruntung. Aku bahkan lupa, bagian mana dari diriku yang benar-benar milikku." - Karenina Sembilan puluh hari menuju pernikahannya, Karenina menyadari satu hal yang mengerikan: ia tidak sedang bersiap menjadi seorang istri, ia sedang dipoles untuk menjadi aset. Aidan-pria yang oleh dunia dianggap sebagai definisi kesempurnaan dan pewaris otoritas dinasti-telah membangun sebuah sangkar emas yang begitu megah hingga Karenina lupa bagaimana cara mengepakkan sayapnya sendiri. "Kamu itu hanya perlu tetap indah dan tenang. Biarkan aku yang merancang seluruh peta hidup kita." - Aidan Lalu muncul Bintang. Seorang petualang yang mencintai perjalanan melebihi tujuannya. Ia adalah antitesis dari segala kekakuan yang mengepung Karenina. Baginya, Bintang adalah personifikasi dari kebebasan yang hilang. Ia bahkan berani untuk sekadar mengecap rasa sepotong ayam goreng pinggir jalan tanpa rasa bersalah. Bersama Bintang, Karenina merasa menemukan celah pintu yang terbuka. Namun, kebebasan itu tidak pernah datang dengan cuma-cuma. Bintang memang meminjamkan sayap, tapi pria itu tidak datang sendirian. Ia membawa beban di punggungnya. "Aku tidak punya apa-apa, Nin. Selain jalanan panjang dan sebuah kebebasan. Tapi setidaknya, bersamaku, kamu tidak perlu mengenakan topeng siapa pun." - Bintang Perselingkuhan ini bukan tentang ranjang. Ini adalah sebuah pemberontakan hati yang sedang sekarat-perjalanan panjang untuk mengeja ulang makna cinta dan menemukan kedamaian yang jujur. Karena pada akhirnya, tak ada hati yang benar-benar bersalah, sebagaimana tak ada hati yang sepenuhnya suci. Setiap hati punya luka, tapi setiap hati juga punya penawarnya sendiri. Dan Karenina... ia menemukan arti itu dalam langkahnya; bermula dari dinginnya dinding kemewahan Jakarta, hingga ke heningnya lembah Bhutan, kemegahan Himalaya, dan sakralnya cahaya purnama di Taj Mahal.

More details
WpActionLinkContent Guidelines