Hidup Sendiri (END)

Hidup Sendiri (END)

  • WpView
    Leituras 458
  • WpVote
    Votos 75
  • WpPart
    Capítulos 18
WpMetadataReadEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização sáb, jul 18, 2020
Hai! Namaku Bulan, aku adalah anak seorang direktur perusahaan, tapi sayang aku adalah seorang anak yatim, iya... Aku hanya memiliki seorang mama, tapi hidupku tetap bahagia karena aku mempunyai 2 sahabat yang selalu menemaniku, namanya Caca dan Cici mereka adalah anak kembar, seru bukan memiliki sahabat kembar. Kini aku sudah mau lulus dari kuliah ku dan disinilah kisah ku dimulai setelah aku bertemu seseorang yang spesial bernama Bintang. #Tetapi orang spesial itulah yang menghancurkan hidupku.#
Todos os Direitos Reservados
#14
menyendiri
WpChevronRight
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • Memories in Moon
  • Pelangi untuk Hujan(on going)
  • M E M O R Y  (On Going)
  • My Eternal Moon [ End ✔️]
  • BINTANG&BULAN
  • [ √  ] AMERTA ¦ Ft Huang Renjun
  • VAGALDARA [TERBIT]
  • Mentari Tanpa Sinar
  • Catatan Aksara Cakrawala
  • ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo