Story cover for boyxboy (elaborate) by ChairilArigAyo
boyxboy (elaborate)
  • WpView
    LECTURAS 62,873
  • WpVote
    Votos 366
  • WpPart
    Partes 3
  • WpView
    LECTURAS 62,873
  • WpVote
    Votos 366
  • WpPart
    Partes 3
Continúa, Has publicado sep 11, 2014
pagi ini terasa berat bagiku untuk membuka lebar mataku karena efek dari perjalanan jauh kemarin.

Oke perkenalkan namaku ivan aku adalah anak rantau yg sekolah di perkotaan demi melanjutkan cita cita ku menjadi seorang insiyur, aku sedang melanjutkan pendidikanku di salah satu universitas ternama,

 dan kini aku sedang bermalas-malasan karena terlalu lelah setelah perjalanan jauh yg aku tempuh setelah mendapatkan beberapa hari untuk cuti.         

"bib.....bibbbbbb..."ku buka ponselku dan ku baca sebuah pesan 
"van,buruan ke kampus sekarang ada pelajaran pak abidin!!!!"ketikan seorang yg mengirimku sebuah pesan singkat 
kulihat nama pengirimnya by rodo.
 
rodo adalah teman tongkrongan sekaligus teman satu fakultasku kami bagaikan kembar apapun kami selalu menghabiskan waktu bersama 

tanpa berfikir panjang aku bergegas bagaikan babi buta yg sedang mencari jalan keluar dari kejaran pemburu
Todos los derechos reservados
Regístrate para añadir boyxboy (elaborate) a tu biblioteca y recibir actualizaciones
O
Pautas de Contenido
Quizás también te guste
Don't Talk About Money de catheryn99
55 partes Concluida
Pernah ga sih? Kalian sekelas sama anak beasiswa yang ganteng banget, pinter banget, tapi juga sombong banget. Padahal dia tuh miskin banget :( Bukannya Irin judging nih, tapi pernah sekali waktu dia sekelompok sama Tama dan maksa buat kerkel di rumahnya untuk tugas akhir mata kuliah Bahasa Indonesia, dan Irin baru tahu, ternyata di Jakarta masih ada ya rumah yang base nya dari kayu tanpa di semen. Letaknya dalam gang kumuh yang bau sampahnya kemana-mana. Tapi jujurly, kalian ga bakal lihat Tama seperti lingkungannya itu, walau dia juga ikut milah sampah yang bisa di daur ulang atau bisa dijual lagi sama bapaknya, semua hal ini yang mendukung Tama mendapat beasiswa untuk berkuliah di universitas terbaik, di tempat yang sama dengan Irin, lewat jalur surat keterangan tidak mampu. Tapi Irin sangat kagum sama Tama, bukan karena wajahnya aja yang tampan, walau hidup Tama terlihat jauh lebih susah dari Irin yang turun naik Jazz ke kampus, Tama ga pernah sekalipun terlihat mengeluh, ga kaya Irin yang perasaan hidupnya ngeluh mulu, malah pinter juga masih pinteran Tama, makanya Irin suka sama Tama, kalo kata Irin sih suka aja, ga yang gimana-gimana, tapi Irin tuh jadi suka ngintilin Tama, minta sekelompok sama Tama, minta diajarin Tama, mau makan bareng Tama atau bawain bahkan beliin Tama makanan, nawarin Tama balik bareng, mau main ke rumah Tama, sampai Tama tuh jengah, dan dari situ Irin menyimpulkan Tama sombong berikut berpemikiran sempit. "Kamu bisa ga? Ga usah dekat-dekat dengan saya? Saya ga butuh belas kasihan kamu, Irin. Jangan bawain saya makanan lagi, ga perlu tawarin saya pulang bareng kamu karena saya bisa sendiri. Jangan masuk ke dunia saya karena kamu tidak cocok. Kamu tidak perlu menempatkan diri sebagai saya karena kamu tidak tahu bagaimana kehidupan saya berjalan. Tapi di luar semua itu, saya bisa menjalankan hidup saya sendiri, tanpa bantuan kamu" Tapi, prinsip Irin tetap satu sejak awal. "Kamu lihat aja, kamu bakal balik dan ngemis cinta sama aku!"
"Bisikan Senior di Lorong Sunyi" de apriani200
22 partes Continúa
Namaku Amira, tapi aku lebih suka dipanggil Mira. Aku baru saja menginjakkan kaki sebagai mahasiswa baru di sebuah fakultas yang terkenal-atau lebih tepatnya, ditakuti-karena senioritasnya yang begitu kuat dan tak kenal ampun. Aku pikir setelah melewati masa PKKMB yang melelahkan itu, hidupku akan mulai berjalan normal, seperti yang kudengar dari cerita teman-teman. Tapi aku salah. Sangat salah. Keesokan harinya, saat pelajaran baru saja selesai, kami dipanggil oleh para senior. Pertemuan pertama berlangsung di dekat kolam perpustakaan yang rindang, tempat yang seharusnya menenangkan, tapi malah membuat dada ini berdebar tak karuan. Suasana terasa tenang, tapi mataku menangkap ada sesuatu yang tak biasa-sebuah bayang gelap yang mengintip di balik senyum mereka. Hari-hari berlalu, dan tempat pertemuan kami bergeser ke lorong yang sunyi dan gelap. Lorong itu seperti ruang antara dunia nyata dan mimpi buruk. Bau lembap yang tajam menusuk hidung, nyamuk beterbangan seperti bayangan yang tak pernah lelah mengawasi, dan lampu remang yang membuat setiap bayangan jadi dua kali lebih menyeramkan. Setiap kali kami dikumpulkan di situ, aku merasa seolah-olah ada mata yang mengintai dari kegelapan, membidik dan menilai. Bisikan-bisikan samar para senior, tatapan dingin yang menusuk tulang, membuatku bertanya dalam hati: apakah ini benar-benar untuk melatih mental, atau sesuatu yang jauh lebih gelap? Aku, yang tubuhnya lemah dan sering sakit, merasa terjebak di tengah tekanan yang menyesakkan. Di antara teman-temanku-Ani yang pendiam tapi kuat, Aini yang selalu cemas, Olifia yang berusaha tegar, dan Ratih yang tak pernah berhenti berharap-kami saling menggenggam tangan dan hati, mencoba menguatkan satu sama lain. "Tapi aku tahu, bisakah kami bertahan?" Bisakah kami tetap berdiri tegak saat bayang-bayang senior terus membayangi dan bisikan itu berubah menjadi ancaman? Atau akan kah kisah kami berakhir di lorong sunyi itu, di mana keberanian diuji dan ketakutan menjadi penguasa?
Quizás también te guste
Slide 1 of 9
Mine [END] cover
rusuh no limit || haikyuu x reader [group chat] cover
Bucin || Jikyu [END] cover
Missing { Who Are You} cover
nostalgia SMA kita cover
Don't Talk About Money cover
serpihan hati cover
"Bisikan Senior di Lorong Sunyi" cover
I'm Alvin [On Going] cover

Mine [END]

20 partes Concluida Contenido adulto

"Yang sudah jadi milikku tidak akan bisa menjadi milik siapapun, apalagi jadi milikmu."