Story cover for ALTER EGO by Adistiasyarif
ALTER EGO
  • WpView
    Reads 110
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 4
  • WpView
    Reads 110
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 4
Ongoing, First published Jun 30, 2020
Mature
Alter Ego
(Prolog)
Aku suka berjudi dengan waktu. Cukup sering, sampai aku sadar bahwa kini taruhannya bukan lagi Hari ke Hari atau Bulan ke Bulan. Tapi seluruh hidupku.
Aku suka mengoleksi Topeng. Memainkan peran dari waktu ke waktu, sampai aku sendiri lupa bagaimana rupa asliku.
Aku suka menanam angin, sampai suatu hari aku menuai badai. Badai yang menyingkap semua topengku. Semua topengku berwajah malaikat, namun rupaku sebenarnya adalah iblis.
Semuanya pergi. Kecuali kau.
Kau mengenalku sebaik kau mengenal telapak tanganmu sendiri. Kau tidak hanya melihat gelapku tapi juga sisi terangku. Dan kau mengatakan;" tanpa kegelapan, aku tak akan pernah melihat bintang."
Dan aku adalah bintangmu. Sesuatu yang hanya dinikmati saat gelap.
Tapi bagaimana jika aku ingin berjalan ke sisi terangku? Masihkah kau memujaku?
Aku adalah satu dari seribu perempuan yang indah dengan sisi gelapnya. Gelap menjanjikan kenyamanan, menjanjikan sunyi, dan menjanjikan keindahan yang tak pernah bisa diberikan Terang. Tapi terang menjanjikan kehidupan.
Kau adalah segalanya. Kau adalah alasan mengapa Gelap dan Terang ada.
Pertanyaannya; maukah kau menjadi Bumi-ku? Tempat aku menjadi Gelap dan Terang dan tempak aku menjadi Malaikat dan Iblis. Tempat aku menitipkan seluruh hidupku tanpa harus berjudi dengan waktu. Mau kah?
All Rights Reserved
Sign up to add ALTER EGO to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
Truth After Love (Tamat, segera terbit) by tiaxyl
36 parts Ongoing Mature
perang "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.
Satintail by retnogaluh
31 parts Complete
Bisakah aku memohon padamu untuk tidak bertindak selayaknya angin? Jangan seperti angin yang mudah datang dan mudah pergi Karena aku takut seperti ilalang yang hanya bisa melambai saat angin memilih pergi Ilalang yang pasrah menatap kepergian angin Memangnya, apa yang bisa diperbuat ilalang ketika angin mulai beranjak pergi? Ilalang tak melakukan apapun pada angin yang melambai seolah mengatakan, "aku pergi, jangan pernah mengejarku, apalagi menunggu kedatanganku." Namun, ilalang tetap berharap bahwa angin mungkin kembali lagi, entah di angin yang sama atau berbeda Untuk itu aku pun yakin bahwa waktu menyimpan segalanya, sekalipun dia yang akan kembali membawa angin yang sempat pergi Sungguh aku tak ingin seperti ilalang. Karena tanpa sadar, aku hampir seperti itu. Hampir. ==================================== (Note: Cerita ini awalnya berjudul Ilalang, namun berganti judul menjadi Satintail karena adanya perubahan pada isi cerita. Ada beberapa kalimat kasar secara eksplisit dan beberapa adegan yang hanya bisa dibaca untuk usia 16 tahun ke atas.) Copyright © 2015 by retnogaluh Cerita ini di lindungi oleh UU Hak Cipta. CERITA INI HANYA PUBLISH DI WATTPAD PRIBADI SAYA (@retnogaluh) DILARANG KERAS MENYEBARLUASKAN, MENGGANTI NAMA/ISI/JUDUL/APAPUN DALAM CERITA INI TANPA SEIZIN DAN MERUGIKAN PENULIS. APABILA MENEMUKAN CERITA INI/SERUPA SELAIN DI WATTPAD HARAP HUBUNGI PENULIS KARENA SAYA TIDAK AKAN SEGAN UNTUK MENINDAK LANJUTI MASALAH TERSEBUT! [Amazing Cover by @hellamer on Wattpad Cover For You]
You may also like
Slide 1 of 7
Crazy Marriage cover
Ex or New? [REVISI] cover
SO PRECIOUS (PART COMPLETE) cover
Truth After Love (Tamat, segera terbit) cover
Kamu [SELESAI]✔ cover
Satintail cover
Istri Sah Ikky [B×B] cover

Crazy Marriage

41 parts Complete

Ambar dan Romi membuat kesepakatan untuk menerima perjodohan mereka. Demi bisa hidup tenang tanpa campur tangan orang tua, mereka menikah, tapi sepakat untuk melanjutkan hidup masing-masing. "Mending gitu sih emang. Mana tahu kalau tinggal berdua gue khilaf ngapa-ngapain lo ye kan," kata Ambar, "gue mesum soalnya," tambah wanita itu, sambil mengedipkan sebelah mata. "Gila," gumam Romi. Tak acuh, ia kembali berjalan. ______ Sayangnya, tragedi "bayar listrik" memaksa mereka untuk tinggal serumah. Satu rumah hanya berdua, tapi gaduhnya bisa luar biasa cuma karena kecoak atau celengan pecah. Niat hati ingin hidup tenang tanpa campur tangan orang tua, ternyata tidak semulus itu, Esmeralda. "Gila lo, Mbar." "Awas lo ya, Rom ...." "Mau ngapain?" potong Romi, tak gentar. "Mau gue perkosa." "Gue buntingin lo kalau berani perkosa gue," balas Romi justru menantang. "Buntingin sini kalau berani!"