butterfly in My stomach

butterfly in My stomach

  • WpView
    Reads 121
  • WpVote
    Votes 36
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jul 6, 2020
Cerita ringan, bukan cerita tentang orang kaya,ceo,dan sebagainya.cerita yang hanya bercerita tentang kehidupan biasa. cerita tentang aku yang menerima terlalu banyak luka, dan memutuskan untuk pergi walau janji telah terucap dan cincin telah tersemat. kisah ku,Andar- yang bekerja sebagai editor dan bertemu kembali dengan Adit yang menjabat sebagai menager editing. ini kisah dimana sepasang merpati yang salah satunya memilih pergi, cerita yang cukup ringan untuk menemani. suka silakan diresapi,tak suka tinggalkan. Romansa
All Rights Reserved
#14
editor
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kopi & Deadline (On Going)
  • Jendela
  • Silent, Please! (Re-up)
  • MAID AND THE COLD BOSS [END]
  • Ok, Boss! [Re-Post]
  • [END] WHAT WE HAVE PASSED TOGETHER?
  • Langkah Seiring (END+EXTRA PART)
  • TOUCHED (End)
  • ANDIANI

Bukan karena lambat bekerja, Ara lembur lagi bagai kuda. Ara duduk sendiri di cubicle, mata lelah, kopi sachet ketiga di tangan, layar laptop menyala dengan file yang hampir rampung. Ingatkan Ara sekali lagi bahwa kerjaannya 'hampir rampung'. Dia menatap layar, lalu menarik napas panjang, "Aku nggak tahu lagi ini kerjaan atau penyiksaan... Tapi besok pagi harus submit, kalau nggak... ya biasa, dapat teror halus dari atasan." Dulu waktu kecil, Ara selalu mengganggap orang yang pulang kantor sampai pukul 12 malam atau pagi buta adalah orang-orang keren. Iya keren, keren keramnya sebadan-badan. Ara menarik napas panjang untuk kesekian kalinya, "Aku gila deh kayaknya, masa dulu kerjaan kayak ginian aku bilang keren." Di sela kelelahan itu, Ara mengenang tempat ngopi yang pernah dia datangi dua minggu lalu-tempat yang jarang dia datangi sebelumnya, tapi entah kenapa, wajah sang barista masih lekat di kepalanya. Dia pernah bilang ke dirinya sendiri , "Aku nggak punya waktu buat cinta." Tapi sejak ketemu cowok itu... apa kalimat yang digaung-gaungkan Ara mulai retak? GA MENERIMA NAMANYA PENJIPLAKAN YA EGE, NYARI IDE ITU GA MUDAH‼️

More details
WpActionLinkContent Guidelines