Ghar-Pu
  • WpView
    Reads 26
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jul 3, 2020
"APA, PERJODOHAN?" Adinia berteriak membuat semua pengunjung di Cafe Dalgona memperhatikan kearah mereka. Adinia tidak habis pikir dengan sikap papahnya itu. Adinia tahu jika papahnya sudah memang mengharapkan dia menjadi gadis seperti pada umumnya. Tampil dengan sisi feminim dan juga bisa menjadi kebanggaan orang tua untuk melanjutkan perusahaan keluarga kelak. Tapi tidak seharusnya sang papah seperti ini! "Aku bingung sama jalan pikiran papah. It's oke, aku suka membangkang, urakan, bahkan sering bikin ulah di jalanan. Tapi gak harus gini pah!" "Terus papah harus bagaimana lagi Dias agar kamu mau meniruti papah? Papah mau kamu berubah! Tidak tampil urakan seperti preman pasar," Yoandri menatap anaknya tajam sambil tangan kanannya di atas meja. Adinia memutar bola matanya malas. Dia sudah benar-benar muak dengan sikap papahnya malam ini. "Pah, aku ini manusia merdeka! Tidak seharusnya papah mengekang aku terus menerus, bahkan dengan papah bersikap seperti ini, aku makin membangkang." Adinia menghela nafasnya perlahan "Aku hidup di zaman millennial, bukan di zaman Siti Nurbaya yang terpaksa dijodohkan karena orang tuanya terlilit hutang. Terserah papah, Dias capek pah." Adinia pergi meninggalkan restoran Dalgona dengan perasaan yang campur aduk. "Papah lebih capek, Dias!"
All Rights Reserved
#968
mahasiswa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Naughty Nanny
  • Rejjan - ZIO's PAPA!
  • AILAH(END)✅
  • RUMAH KECIL ITU by : Plavana
  • Ain't Your Daddy (COMPLETED)
  • Because I'm Stupid (End)
  • Cansu
  • Suamiku Amnesia (REPOST)
  • Aksara Lingga

"Baju lo kebuka banget. Nggak sekalian jual diri?" "Udah. Papi lo pelanggannya. HAHAHA." "Anjing!" "Nanti lo pura-pura kaget aja kalau besok gue jadi mami lo. Soalnya gue udah berhasil godain dan jebak bokap lo yang tajir itu. Berhubung lo sering rese dan bertingkah, gue bakal jadi ibu tiri yang jahat. Pokoknya siapin mental dari sekarang. Anggap aja ini hari pembalasan buat bocah nakal kayak lo." "Papi nggak mungkin suka sama cewek nggak jelas kayak lo! Nggak mungkin! Gue tau selera papi!" "Eitttss siapa bilang? Buktinya papi lo doyan banget sama gue tuh! Emang semalem lo nggak denger suara plok plok plok dari kamar papi? Itu gue lagi digempur brutal sama papi lo." "Orang gila! Lo pikir gue bakal percaya omong kosong orang nggak waras kayak lo?! Nggak! Gue kenal papi. Papi nggak mungkin ngelakuin itu apalagi sama lo! Nggak mungkin!" "Lo serius nggak denger apa pura-pura doang, nih? Padahal keras banget loh hentakan papi lo. Sayang banget ternyata nggak kedengeran. Tapi kalau suara desahan gue pasti denger dong? Yang ahh ahh itu loh. Itu pas papi lo geraknya dicepetin, mana makin keras. Makanya gue sampe jerit. Tapi gue yang minta lebih cepet, sih, hehehe." "Diem! Lo orang gila! Gue nggak mau punya mami orang gila kayak lo! Berhenti ngarang cerita!" "HAHAHAHA. Nggak sabar jadi mami tiri dan siksa lo habis-habisan. Kalau udah puas bikin lo menderita, tinggal usir deh. Hush hush hush! Pergi yang jauh. Biar gue aja yang kuasain harta papi lo. Ughh! Pasti seru banget. Apalagi kalau nanti ada scene ngakakin lo yang udah dibuang terus jadi gembel." "PAAAAPIIII!" "Pioooo ..." "Hehehe."

More details
WpActionLinkContent Guidelines