Little Hope Nova

Little Hope Nova

  • WpView
    Reads 15
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 5, 2020
Hari di mana semua terlihat sekolah akan berakhir, angin yang membawa bahagia ini pergi, gerimis yang mengundang kesedihan. Malam gelap penuh kesunyian menggambarkan betapa kosongnya hati ini. Merebahkan diri, dilapisi selimut pembawa kehangatan menjadi hal nyaman yang selalu ingin dilakukan. Membatin diikuti aliran air mata yang terus mengalir membasahi bantal adalah pekerjaan saat malam menjelang. Entah sampai kapan semua ini berakhir, pergi tanpa harus kembali lagi. berdiam diri merenungi keadaan pahit, berfikir cara untuk untuk keluar, namun semua terlalu sulit untuk di jauhkan. Tak ada satupun yang peduli akan diri ini. Ketengaran hatilah yang bisa membawa diri ini bertahan. Sabar menghadapi semua dan selalu percaya bahwa Tuhan punya banyak cara untuk membawa hambanya keluar dari gelapnya keadaan.
All Rights Reserved
#167
kesendirian
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Erlangga
  • Senja Yang Sunyi
  • Malam Seribu Mimpi Buruk
  • Tangisan Hujan
  • Sunyi
  • ~CINTAKU UNTUK VAMPIRKU~
  • alxendric and his wounds
  • Lembayung
  • ASA
  • "Tatapan Terakhir yang Tak Kujadikan Pertanda"
Erlangga

Erlang selalu berpikir bahwa cinta adalah sesuatu yang bisa ia genggam erat. Bahwa ketika dua orang saling mencintai, mereka akan tetap bertahan, apa pun yang terjadi. Tapi nyatanya, itu hanya keyakinan naif yang perlahan hancur di hadapannya. Pacarnya pergi karena dia sudah menemukan yang baru. Semua janji, semua rencana masa depan, semuanya runtuh dalam sekejap. Erlang hanya bisa menatap kepergiannya, bertanya dalam hati, "Apa aku kurang baik?" Belum juga ia berdamai dengan kehilangan itu, takdir menamparnya lebih keras. Sahabatnya, satu-satunya orang yang mengerti dia tanpa banyak bicara, pergi-bukan karena memilih, tapi karena kehidupan memutuskan demikian. Kali ini, kepergian itu benar-benar untuk selamanya. Tidak ada kesempatan untuk meminta maaf, tidak ada lagi tawa yang bisa dibagi. Ditinggalkan oleh orang yang ia cintai, kehilangan orang yang selalu ada untuknya-Erlang berpikir, mungkinkah ia memang ditakdirkan untuk sendiri? Namun, di tengah kehancurannya, ada satu orang yang tetap di sisinya. Seseorang yang tak banyak bicara, tapi selalu tahu kapan harus mendengar. Sahabat yang tidak pernah menjanjikan apa pun, tapi selalu ada tanpa diminta. Dan dari sana, tanpa Erlang sadari, luka yang ia pikir tak akan sembuh perlahan mulai menemukan cahaya. Cinta yang ia kira sudah mati, ternyata masih punya kesempatan untuk hidup kembali. Apakah Erlang siap membuka hatinya lagi? Atau masa lalu akan terus menghantuinya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines