Akulah Sang Janin (ASJ)

Akulah Sang Janin (ASJ)

  • WpView
    LECTURAS 716
  • WpVote
    Votos 124
  • WpPart
    Partes 21
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación vie, ago 7, 2020
WpInfo
Ficción
Romance
Ibu.. Tak peduli racun potassium chlorida mengguyur tubuhku ataupun cairan keras raksa memutus leherku aku akan tetap menyayangimu. Ibu.. Tak bisakah kau membiarkanku sebentar saja menghirup wangi kasturi bernama dunia?. Izinkan tangan mungil ini membelai wajahmmu dan menghapus setiap bening yang jatuh dalam genangan duka di matamu. Aku ingin bibir mungil ini belajar lebih banyak hingga aku bisa merapal namamu dengan jelas, I-B-U.
Todos los derechos reservados
#248
perjuanganhidup
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )
  • OM DUDA KU YANG SEKSI (TAMAT)
  • (End) Ketika Hanya Hati yang Saling Bicara
  • Heart & Vein ( DIAM-DIAM DIA SUAMIKU ) END
  • Istri Atau Sarjana [Tamat]
  • Maina & Maxim
  • ALBARA - (Jatuh Cinta Itu Lucu)
  • Coffee Of My Life
  • MY  Hot Bodyguard (PROSES REVISI)

Malam ini, beberapa hari setelah aku kembali dari Arab Saudi, aku bersama ayah dan ibuku datang ke rumah salah seorang kerabat ayah untuk bersilaturrahmi di hari raya, dalih kami. Padahal, yang sebenarnya adalah kami memiliki maksud dan tujuan yang lebih utama dari bersilaturrahmi di hari raya, yakni untuk melihat gadis yang diinginkan ibu menjadi calon istriku. "Naira. Naira Salsabila nama lengkapnya. Naira ini adalah putri kandung kami." Begitu ayah gadis yang ingin kulihat itu memperkenalkan putri beliau kepadaku, dan kepada ibu dan ayahku, saat Naira, sapaan si gadis berhijab orange muda, menyajikan teh untuk kami yang sedang bertamu ke rumahnya. Naira, gadis berumur dua puluh tahun itu perlahan mulai mencuri pandanganku. Wajah putih lembut. Pipi yang merona. Tatapan matanya yang sendu. Senyum tipis yang mengunci bibir. Sikapnya yang santun. Pandangan yang senantiasa terkurung sungkan. Semua hal yang sungguh indah lagi anggun di mataku tersebut, seakan tak membiarkan hatiku untuk ragu pada niat suciku terhadapnya. Bahkan, sedikitpun keraguan tak ada bayangan akan tumbuh.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido