Dia Yang Tak Tergapai

Dia Yang Tak Tergapai

  • WpView
    Odsłon 151
  • WpVote
    Głosy 28
  • WpPart
    Części 4
WpMetadataReadDla dorosłychW trakcie
WpMetadataNoticeOstatnia publikacja pt., lip 10, 2020
Kesya selalu berharap kepada orang yang dia suka tetapi harapan Kesya selalu tidak pernah menjadi kenyataan. Dan tiba-tiba ada seorang teman Kesya mendekati dia, apakah Kesya akan mempunyai rasa suka pada orang tersebut? Bagaimana sebaliknya? Atau apakah teman Kesya yang mempunyai rasa suka? Penasaran kan. Ikutin terus cerita aku ya! Skuyy di baca guyss. Perasaan ini sangat dalam Sehingga aku lebih memilih untuk Memendam rasa ini -Keisya Aulia Salsabila HOPE YOU'RE GUYS , LIKE IT!
Wszelkie Prawa Zastrzeżone
Dołącz do największej społeczności pisarskiejOtrzymuj spersonalizowane rekomendacje dzieł, zapisuj ulubione dzieła w bibliotece oraz komentuj i głosuj, aby rozwijać swoją społeczność.
Illustration

To może też polubisz

  • Love Is You (Tamat)
  • HOPE
  • MELANCHOLY [TAMAT]
  • Will I And You Become Us
  • Everything
  • PAPA [END] ✔
  • AGAVAN (H I A T U S)
  • Antara trauma dan kesempatan kedua
  • I KNOW YOU DON'T CARE
  • Ali Arkhan

Gadis pertama berdiri tegang melihat gadis kedua terduduk lemah di atas kursi roda. Wajah gadis kedua pucat. Ada kesakitan yang merayap di wajah gadis itu. Namun dia berusaha menyembunyikannya dengan memalingkan wajah. Gadis pertama masih shock sejak di IGD tadi dokter jaga menjelaskan bahwa kandungan gadis kedua tidak bisa dipertahankan lagi akibat perdarahan yang dialaminya. Gadis kedua hamil? Gadis kedua mengandung sebuah janin? Siapa... siapa yang melakukannya? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di kepala gadis pertama. Semua kebingungan dan kepanikan bercampur menjadi satu. Tidak tahu harus berkata apa. Tidak mengerti harus bertanya apa. Dia hanya diam membeku seperti orang bodoh. Tapi tatkala melihat raut wajah gadis kedua, gadis pertama tidak ingin bertanya apa-apa lagi. Apalagi ketika melihat gadis kedua menekuk perutnya karena sakit saat diminta berbaring di sebuah ranjang ginekologi, gadis pertama merasa iba. Belum hilang kebingungan mereka, pertanyaan seorang perawat malah membuat keadaan semakin menegangkan. "Di mana suaminya?" tanya perawat itu dengan suara datar. Sepertinya perawat itu sudah bisa mengira apa yang terjadi ketika ada seorang pasien yang datang bersama teman-temannya. Bukan keluarganya. Gadis pertama memandang gadis ketiga yang sedang berdiri di sudut ruangan. Gadis ketiga pun terdiam membeku tidak menjawab sepatah kata pun. Tapi matanya meredup lalu menundukkan kepalanya. Siapa suami gadis kedua? Menikah pun dia belum! Lalu sebuah suara lelaki menyentakkan mereka. Spontan mereka menoleh dan terkaget-kaget melihat siapa lelaki itu. "Saya suaminya." Bersamaan gadis pertama dan gadis ketiga melihat gadis kedua dengan ketegangan yang memuncak. Seolah menanyakan kebenaran jawaban lelaki itu. Tapi sayangnya gadis kedua memilih untuk berpaling. Lalu setetes air mata membasahi pipi gadis kedua. Melihat air mata itu, gadis pertama tidak perlu lagi bertanya. Dia sudah mengerti semuanya. Lalu tiba-tiba hatinya terasa sakit. Amat sakit.

Więcej szczegółów
WpActionLinkWytyczne Treści