Just call me Oppa !

Just call me Oppa !

  • WpView
    Reads 149,568
  • WpVote
    Votes 7,067
  • WpPart
    Parts 26
WpMetadataReadComplete Sat, Jun 4, 2016
"Aku benar benar tidak bisa memutuskan apakah hari ini kau beruntung atau sial Alice, karena dalam satu hari ini kau bisa bertemu dengan dua bintang besar, namun kedua bintang itu sepertinya membawa nasib yang kurang baik untukmu." ujar Mimi sambil menatap Alice penuh spekulasi. Apa jadinya jika seorang gadis yang tergila gila dengan Kyuhyun justru harus berurusan dengan Lee Min Ho??? Mata Alice membulat sempurna, ia seolah terkena serangan jantung. Suara kembang api yang meletup di atas kepalanya sama sekali tak bisa ia dengar atau lihat. Yang ia rasakan hanyalah bibir Minho yang terasa lembut dan hangat menempel di bibirnya dan membuatnya buta ,tuli, dan lumpuh dalam sekejap. Jika bukan karena tangan Minho yang melingkar sempurna di pinggangnya, Alice yakin ia sudah terjatuh sekarang karena kakinya sudah berubah menjadi kapas. Bagaimana nasib Alice selanjutnya???? so,, enjoy reading guys.... Anyyeong~~~~
All Rights Reserved
#230
korea
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • I Love You, But ... ✓
  • TREAT ME BETTET
  • MOLLYCODDLE
  • Sweet Home || HoonSuk
  • Satisfy Friends || Min Yoon Gi  [ 민윤기 ]
  • My Boss Is OverHormone🔞 (VKook END)
  • Bad Couple [COMPLETED]
  • "RUMORS"
  • The Only Person [COMPLETED]
  • The Right Our Fate

Orang-orang berpikir Lee Seokmin adalah cowok yang Yuna suka dan Kwon Soonyoung adalah kebalikannya. Karena Yuna selalu tersenyum dan akrab dengan Seokmin, sedangkan pada Soonyoung seperti musuh. Namun, Soonyoung tak pernah menyerah dengan perasaannya. Hingga akhirnya dia mendapatkan hadiah besar setelah malam itu terjadi. Dia tidak sabar mendengar Yuna menerima perasaannya kemudian berpacaran dengannya. Seharusnya itu terjadi. Seharusnya. **** "Kau mau pergi? Kenapa?" Kebisuannya bisa membunuhku. "Yuna, kau bahkan tidak memberiku kesempatan pacaran denganmu! Kau bilang jawabannya hari ini." Dia sepertinya tidak peduli seberapa dalam kehancuran yang akan kuterima akibat putus asa mengejarnya. "Kenapa kau tega sekali padaku? Jawab aku!" Dinding batu yang mengungkung tubuh Yuna akhirnya binasa. Dia menjatuhkan tasnya dan melangkah ke arahku. Matanya tiba-tiba memerah. Aku bertanya-tanya apakah dia hendak menangis atau itu memerah karena hal lain seperti kelilipan atau apa. Tiba-tiba kedua tangannya mendorong dadaku. Kencang sekali. "Kau mau pacaran denganku? Baiklah," ujarnya, suaranya gemetar. Dia mendorongku lagi, lebih kencang hingga tubuhku keluar dari bawah atap halte ke bawah guyuran hujan. "Ayo pacaran." Yuna mengeluarkan ponsel. Sementara jemarinya menari di atas layar, aku mengawasi dengan gigi bergemeletukan, tubuhku menggigil kedinginan, tanganku terkepal kencang. Kemudian gadis itu memamerkan layar ponsel padaku yang menampilkan penghitung mundur. "Tiga menit dari sekarang."

More details
WpActionLinkContent Guidelines