About you

About you

  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jul 10, 2020
Berawal dari pertemuan singkat itu,kini membawa ku jatuh kedalam lubang yang salah.salah mengartikan perhatian itu,salah mengartikan rasa pedulimu,salah meletakan hatiku,dan salah minilai sikapmu. Aku selalu membenci titik dimana aku tidak bisa berbuat apa apa. disatu sisi aku mencintai dia,dan disisi lain ada yang mencintaiku. tidak mungkin aku memilih salah satunya. Ketika aku memilih meninggalkan seseorang yang benar benar sangat mencintaiku dan memilih tetap tinggal bersama orang yang aku cinta, seseorang yang sangat mencintaiku akan sakit. Ketika aku memilih meninggalkan seseorang yang aku cinta dan memilih bersama seseorang yang sangat mencintaiku, hatiku akan merasa sakit. Aku sangat egois bukan? Terus aku harus bagaimana? Akankah aku memilih dia? Aku tidak tau.
All Rights Reserved
#567
rumit
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • TEOLOGI CINTA
  • SELEZIONE
  • RaSa♥ (Raffa & Sarah)
  • Claudya
  • 𝑴𝒆𝒏𝒄𝒊𝒏𝒕𝒂𝒊𝒎𝒖, 𝑳𝒖𝒌𝒂 𝑩𝒂𝒈𝒊𝒌𝒖✓
  •  Aku Dia dan Dia
  • CARAKU MENINGGALKANMU
  • Sebatas Mimpi
  • All of the stars [Bulan's]

Memilih jodoh tak seperti melempar dadu. Aku sudah super hati-hati, ketika akan memutuskan Ghani menjadi suamiku. Tetapi Tuhan punya rencana lain. Ketika Ghani dalam keadaan tak berdaya, koma dan amnesia. Aku jadi berpikir ulang. Semakin tak tega untuk mencampakkan begitu saja. Aku tak tahu, apa ini cinta atau bukan. Yang jelas rasa itu hadir mengikat hatiku. Ghani bagiku saat ini tak lagi seperti pakaian. Jika tak cocok, aku mengganti yang lain.Bahkan, hari demi hari aku tak ingin jauh darinya. Aku tak ingin sewaktu-waktu jika ia dipanggil-Nya, aku luput dari sisinya. Terkadang aku tak mengerti banyak hal tentang diriku sendiri saat ini. Sejak Ghani bernasib naas, aku merasa berdosa besar dan sulit untuk memaafkan diriku atas niat burukku dulu pernah menuntutnya bercerai. Kini, justru sebaliknya, aku seperti telah jatuh cinta untuk kedua kalinya, tanpa syarat, sampai tertawan, hingga berserah tanpa bisa melawan. Aku mengizinkan hatiku mengalir bersama keterbatasannya, tanpa alasan jelas, bahkan cenderung absurd. Ada rasa kasihan dan iba yang luar biasa. Seperti gaya percintaan kakek nenek yang telah menua dan renta. Terkadang kuberpikir apakah hubungan suami istri seperti ini yang ideal? Tak mudah lekang oleh pancaroba. Dibanding yang didasari hitungan untung-rugi dengan mengatasnamakan cinta? Yang tak kumengerti sampai saat ini, mengapa aku semakin takut kehilangan Ghani? Sampai aku tak mampu lagi mengindetifikasi perasaanku ke Ghani, apakah aku mencintai atau mengasihani?

More details
WpActionLinkContent Guidelines