RETKAI
  • WpView
    Reads 12
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 9, 2022
Retak berayun di atas ayunan, benda usang itu berayun kedepan dan kebelakang mengikuti ayunan kaki Retak. Retak sedang menatap matahari yang mulai muncul setelah hilang nya fajar. Deru mobil dan motor sesekali terdengar, lalu senyap. Digantikan dengan alunan musik yang terdengar dari seisi komplek yang sedang berolah raga pagi. Atau bisa disebut senam pagi. Itu adalah kebiasaan retak, menaiki ayunan menunggu matahari menyapa permukaan bumi sambil bersenandung ria disetiap pagi nya. Sesekali mata nya melirik balkon kaizo yang masih tertutup rapat oleh gorden besar Namun kebiasaan itu perlahan mulai menghilang, suara pekikan, teriakan dan tawa yang biasa menghiasi taman itu perlahan hilang bagai ditelan bumi. Dua kebiasaan yang selalu menjadi rutinitas Retak kini tidak lagi dirasakan. Ayunan yang dulu nampak terawat kini di penuhi akar merambat yang melilit, besi ayunan yang dulu nampak kokoh kini mulai karatan. Benar kata pepatah. "Penyesalan selalu datang diakhir." Kaizo Mahendradatta resmi kehilangan Retak. Gadis yang mengejarnya sejak 3 tahun lalu itu kini perlahan berubah, berubah menjadi sosok tidak tersentuh sebab kesalahan yang pernah kaizo lakukan. {Start: 10 Jan 2022
All Rights Reserved
#130
kaizo
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Space Between Us
  • Lara yang tak kunjung USAI ||•ondah•||
  • Dua Garis Takdir
  • RUMAH KECIL ITU by : Plavana
  • mr.bean Ibrahim  End|
  •  FUTURE OF WANG 🔚 END✅🍄🍄 (YIZHAN) FULL PDF
  • Noisy for Dysis
  • Kenapa Harus Aku?! || Kim Sunoo [END]✓

Langit Jakarta sore itu selalu terasa sama bagi Deshita kelabu, pengap, dan menyesakkan. Setiap harinya adalah sebuah rutinitas yang menguras energi, sebuah perjuangan tak henti untuk sekadar bernapas di tengah tuntutan masalah yang tak ada habisnya, ekspektasi keluarga yang membebani, dan hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur. Dia merasa seperti sehelai daun kering yang terombang-ambing tanpa arah, lelah mencari tempat untuk berlabuh. Senyumnya semakin tipis, tawanya semakin jarang, dan yang tersisa hanyalah rasa frustasi yang mengendap di dasar hatinya. Ia merindukan ketenangan, merindukan rasa nyaman yang sudah lama hilang. Di tengah keputusasaan itu, takdir mempertemukannya dengan Seseorang yang menjadi penyelamat hidupnya di tegah keterpurukan. Perlahan, kehadirannya mulai mengubah warna dunia Deshita yang semula monoton. Dia tidak datang dengan solusi ajaib, melainkan dengan telinga yang mau mendengar, bahu yang siap menopang, dan tatapan mata yang penuh pengertian. Bersamanya, Deshita menemukan ruang untuk menjadi dirinya sendiri, tanpa beban dan tanpa topeng. Dia adalah tawa yang memecah kesunyiannya, pelukan yang mengusir dinginnya, dan bisikan lembut yang menenangkan badai dalam dadanya. Ia tak pernah tahu bahwa "rumah" itu bukan selalu tentang sebuah bangunan, melainkan tentang seseorang yang bisa membuatmu merasa utuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines