Araki, seorang eksekutif muda yang berumur 29 tahun mendapatkan sakit hati pertamanya. Demi menghapus rasa kecewa itu, ia menerima tawaran ayahnya-yang notabene bosnya sendiri, untuk pergi ke Indonesia, menangani segala permasalahan perusahaan cabang yang terletak di sana.
Araki sempat ragu untuk pergi ke Indonesia, karena ia tidak terlalu suka negara itu. Lebih tepatnya ketidaksukaan itu disebabkan karena masalah personal ketika dua tahun lalu ia pernah tinggal di sana selama 3 bulan. Hubungannya tidak begitu baik dengan salah satu pimpinan. Ia sempat adu mulut, dan Araki nyaris lebam pada pipi jika ia tidak menghindar dari serangan orang tersebut.
Akankah Araki bertahan?
Atau Araki... malah ingin tetap tinggal?
Di usia yang nyaris kepala tiga, Terra masih tidak mengerti tujuan hidupnya apa. Selama lima tahun terakhir, dia merasa tidak ada yang berubah, waktu berhenti berputar dan tahu-tahu dia sudah dua puluh delapan tahun. Rasanya baru kemarin dia masuk kerja di perusahaan yang sekarang, tiba-tiba dia sudah mendapatkan gift box lima tahun pengabdiannya pada perusahaan.
Sahabat baiknya yang dari bayi bersama dengannya sebentar lagi juga akan menikahi pujaan hatinya. Artinya hanya Terra saja yang akan sendirian setelah ini. Membayangkan itu saja sudah membuat Terra setengah gila dengan otak yang hampir cidera.
Sedang adem-ademnya, kantor digemparkan dengan isu korupsi dan perselingkuhan atasannya sendiri, membuat Terra berada di posisi yang serba salah. Pekerjaan Terra yang tadinya damai-damai saja jadi seperti angin puting beliung karena munculnya sang atasan baru yang mengerikan.
Kalau tidak ingat dosa, rasanya dia ingin berhenti hidup saja. Satu-satunya yang membuat Terra bertahan hidup adalah karena dia tidak mau mati konyol dan bingung ketika ditanya apa saja yang sudah dia lakukan di dunia nanti. Paling tidak harus ada yang dibanggakan dari dirinya kan.