JALAN CERITA CINTA (JCC)

JALAN CERITA CINTA (JCC)

  • WpView
    Dibaca 42
  • WpVote
    Vote 0
  • WpPart
    Bab 10
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Rab, Agt 5, 2020
WpInfo
Fiksi
Romansa
seorang anak menginginkan sebuah keluarga yang harmonis dan hangat, dimana ada sebuah pengakuan dan kebanggan tersendiri bukan hanya kejelekan yang di pandang. Gimana sihh perasaan kalian saat di beda bedakan oleh kelurga kalian sendiri hingga kalian merasa tak berguna di keluarga itu bahkan bukan hanya dalam keluarga besar keluarga intipun kalian merasa di kucilkan tapi hidup kalian mulai berubah saat ada beberapa orang yang membantu kalian dalam berfikiran baik bahkan mengajarkan kalian untuk hidup selalu bersyukur dalam keadaan apapun "Kamu tuhh harusnya bersyukur aku aja yang kaya gini masih bisa ketawa ketawa jadi jangan membuat diri kamu lemah gitu" kata sahabatku "Ya bener tuhh aku tau keluargaku hangat tapi sebelum ini apa kamu tau masa lalu keluargaku " kata reyga "Nahg iya bener tuhh sey jangan anggap diri lu , lemah harus tunjukan lu bahagia" kata sahabat reyga "Dan juga liat anak-anak itu" kata reyga Nahh mau tau kelanjutanya langsung aja di buka #enjoyyy~~
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat
  • Sulung
  • Happy Is Bulshit
  • don't leave daddy CH2 (END)
  • Bertahan Dalam Melody Cinta
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • Kembar Berbeda [TERBIT]
  • KARAFERNELIA
  • Tirta Mata

"Kamu harus mendapatkan nilai sempurna." Ucap papaku dengan suara tegas, seolah-olah aku tak punya pilihan selain menjadi sempurna di matanya. "Kamu harus selalu mengalah dengan kakakmu." Ucap mamaku tanpa ragu dan menuntut. Bagi mama, akulah yang harus mengerti kakak dan mengalah jika bertengkar dengan kakak entah kakak yang benar atau salah. "Ini semua salahmu! Andai saja aku tak memiliki adik sepertimu!" Ucap kakakku dengan mata penuh kebencian, seakan keberadaanku adalah kutukan yang merusak hidupnya. "Kakakmu itu sudah sangat menderita, jadi kamu harus mengerti dia." Ucap nenekku, seperti akulah yang membuat kakak semakin menderita. "kamu mah enak! kamu pintar dan punya orangtua kaya!! Ga ada yang kurang dari hidupmu." Ucap salah satu teman perempuanku dengan nada iri, tanpa tahu betapa sepinya hidupku. "kamu beda banget sama kakakmu ya. Kakak mu cantik banget, tapi kamu? Jelek parah." Ucap salah satu teman laki-lakiku sambil tertawa, seolah aku hanyalah lelucon menyedihkan di matanya. "Terima kasih... Kamu selalu menjadi pendengar yang baik." Ucap sahabatku dengan nada lembut, tapi entah kenapa kata-katanya terasa seperti pengingat bahwa aku hanya ada untuk mendengar, bukan untuk didengar. Lalu, kakek menatapku. Matanya teduh, penuh kasih, berbeda dari yang lain. "Apa kamu benar-benar baik-baik saja, cucuku?" Ucap kakekku, satu-satunya suara yang terdengar tulus di antara semua itu. Aku ingin menangis. Aku ingin berteriak bahwa aku tidak baik-baik saja. Aku ingin mengatakan bahwa aku lelah, bahwa aku tak tahu harus bagaimana lagi. Tapi aku tersenyum lebar pada kakekku. Aku menahan air mataku agar tak jatuh, karena aku tahu... air mata tidak akan mengubah apa pun. "Aku baik-baik saja." Ucapku dengan nada ceria yang ku paksakan, seperti biasa. • Hasil karya sendiri • bahasa baku dan non baku • maaf kalau ada kesamaan tempat, nama, dsb dalam cerita *** Happy_Reading ***

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan