BISIKAN

BISIKAN

  • WpView
    Reads 956
  • WpVote
    Votes 71
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadComplete Wed, Jul 15, 2020
"Hentikan!" "Arrgh, Pergi!!" Teriaknya nyaring, tapi tak bisa didengar oleh orang lain. Ia pun menutupi telinganya lebih kuat dan semakin kuat, sampai2 telinga nya terasa sakit. Air mata membasahi pelupuk mata dan pipinya, kakinya semakin terasa dingin, matanya terus di penjamkan dan terus bersembunyi di balik selimut tebal yg sedang menutupi tubuhnya. Suasana gelap seolah sedang menerkam seseorang yg sedang berharap, bisikan-bisikan itu pergi secepat mungkin. . . . . . Kuy mampir!!
All Rights Reserved
#5
katatokoh
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SENJA DI PUNCAK TANGKILING
  • Limerence
  • Mine (Douma x Reader)
  • Who Are You?
  • AFTER (COMPLETE)
  • Stay (Away)
  • Queen And Her Devil Boy {Completed)
  • Boyfriend
  • Lara yang tak kunjung USAI ||•ondah•||

"Jangan menatapku". Abrar masih dengan mata terpejam "Kenapa ?" " Nanti kau bisa lupa pada pacar mu". "Pfffffpfffff" Awinda mengantupkan kedua bibirnya mencegahnya tertawa lebar. "Kau benar ". " Jadi kau sudah punya pacar". " Kau mengintrogasi ku ". Kini Awinda membalasnya. Abrar menelan Salivanya. Terdiam dalam senyapnya. Ia tak ingin melanjutkan pertanyaan apapun. Karena jika ia banyak tahu kenyataan, maka bisa jadi hal - hal pahit yang akan ia dapatkan. Hidup mengajarkannya untuk sering menerima kenyataan pahit ketimbang mengharapkan sesuatu yang ternyata hanya sebatas angan dan impian. "Cepat tidur". "Belum mengantuk" sahutnya cepat. " Kenapa kau biarkan aku mengambil baju dan celana mu padahal kamu punya tenda ini. ? Bodoh ". " Ambil lah apapun yang kau mau dari ku". " Sejak kapan kau menjadi buaya ? " " Setelah masuk kedalam lubang tanah dan bertemu ratu buaya ". Awinda mencubit perut Abrar. Sehingga ia menggelinjang nyeri dan meminta ampun. Ia meraih tangan Awinda dari perutnya dan meletakkannya didadanya. " Tidurlah, ini peringatan ku yang terakhir". Perlakuan Abrar membuatnya meringis, kini Abrar juga mulai mengamcamnya. Berusaha memejamkan mata dan perasaan hangat itu kembali menjalar ulu hatinya. Ia kesulitan untuk menarik nafas namun ia mencoba menghirup udara lewat mulutnya lalu mengeluarkan kembali perlahan. " Kau kedinginan ? " Abrar membuka suara, " Hmmm " "Kau bisa terkena hipotermia dan sulit bernafas".

More details
WpActionLinkContent Guidelines