BIRU (Hiatus)

BIRU (Hiatus)

  • WpView
    OKUNANLAR 1,485
  • WpVote
    Oylar 202
  • WpPart
    Bölümler 18
WpMetadataReadDevam ediyor
WpMetadataNoticeSon yayınlanan Sal, Nis 13, 2021
[On Going] [⚠Slow Update] Dia Biru Aurora yang kerap di sebut Biru. Hanya seorang gadis lugu dan polos, jangan lupakan sifat dinginnya yang merekat pada dirinya. Kisah kekeluargaan? Kisah percintaan? Kisah persahabataan? Kisah penghianatan? Ia harus mengikuti jalan yang sudah digarisi takdir yang mau tidak mau harus dilaksanakan, ikhlas tidak ikhlas harus menerima, sakit maupun tidak harus dijalankan. ------ Percaya atau tidak, semua ini terlalu menyakitkan. Haruskah aku yang mendapatkannya? -Biru Aurora. Aku tidak mengerti, apa yang aku lakukan? -Elang Xavitero __________ For Your Information: Nama tokoh dan nama tempat, yang masih meminjam dari yang lain. Harap maklum jikalau ada kesamaan dari dalam ceritanya. Jalan cerita yang dibuat, sudah tentu terkarang dari saya sendiri. Mengarang itu sangat sulit, Karena mengarang tidak semudah copy-paste. ©2020 by Ririani🖋️
Tüm hakları saklıdır
#375
elang
WpChevronRight
En büyük hikaye anlatıcılığı topluluğuna katılınKişiselleştirilmiş hikaye önerileri alın, favorilerinizi kütüphanenize kaydedin ve topluluğunuzu büyütmek için yorum yapın ve oy verin.
Illustration

Ayrıca sevebilecekleriniz

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • AMOUR
  • ANAIAL《TERBIT》
  • Mistake
  • Lu-Gu (Selesai)
  • Deep Blue (END)
  • DIA BIRUTA
  • DISA | broken
  • Behind Bullying [END]

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

Daha fazla bilgi
WpActionLinkİçerik Rehberi