We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
3 Friends In 3 Month

3 Friends In 3 Month

  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jul 17, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Hidup itu manfaat Bermanfaat dan Selalu dimanfaatkan Tiga kalimat itulah yang menjadi prinsip hidup seorang cewek SMK bernama Yuna. Yuna sebenarnya sudah muak dengan hidupmya yang sellau dimanfaatkan. Tapi selama ibu yang sangat ia sayangi masih hidup. Yuna tetap bertahan akan kemunafikan orang-orang disekitarnya yang sealalu memanfaatkannya. Dan inilah Yuna yang sekarang. Cewek polos dengan satu ekspresi. Datar dan dingin, tak jarang Yuna membuat teman-teman nya terluka akan ucapannya yang tajam setajam santet wkwkwk. Sehingga Yuna kehilangan banyak sahabat yang selalu memanfaatkannya. Tapi itu jalan hidupnya. Dan selalu menjadi pilihannya. Sampai datanglah seseorang yang membuat hidupnya berubah... Bacalah penggalan kisah ku ini,,,
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Seratus Meter Dari Hatimu
  • Cool Boy & Gadis Halu
  • TOXIC!
  • Cegil Komplek [00L]
  • Cokelat Kacang [Selesai] [TIDAK REVISI]
  • The Last Birthday With You
  • Rarudet Squad 2 (END)

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines