We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Radar
  • WpView
    Reads 15
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 16, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
Bucin? Uwu? Dua kata yang bertolakbelakang dari kehidupannya. Radar menyusuri koridor dengan senyuman bahagia. Senyuman bahagia yang akan menyatakan perasaan pada seseorang. Sudah satu minggu ia tidak menapakkan kaki di sekolahnya juga tidak melihat seseorang yang tiap hari menjadi pusat di otaknya. Satu minggu ini ia tidak diperbolehkan keluar dari rumahnya. Sedangkan ia terus berada didalam kamar. Handphone yang ia miliki pun rusak menambah kebosanannya. Radar yang dulu raja bully, kejam, dingin berubah menjadi Radar yang murah senyum dan ramah. Ia pun menyusuri koridor bukan ke arah kelasnya, melainkan kelas seseorang tersebut. Saat sudah sampai di kelas, ia mengintip apakah seseorang tersebut sudah datang apa belum dari jendela. Namun ia tidak melihat keberadaannya. Tak ada pilihan, ia pun menanyakan pada sahabat. "Lo liat 'dia' gak? Udah dateng belum?" Tanya Radar melihat kearah bangku kosong itu. "Lo ngga tau 'dia' udah gak ada?" "Maksud lo?" "Gue rasa gue gak usah ngejelasin maksud dari 'udah gak ada'. Lo pasti paham kan yang gue maksud" "DIMANA DIA SEKARANG? JAWAB GUE, DIMANA DIA, HAH?" "Tpu Cirimekar" Dan, tidak ada senyum yang terbit lagi dari laki-laki itu. Cover by pinterest
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • SATU HARI (TAHAP REVISI)
  • SELESAI (Say Goodbye)
  • STUCK
  • [✔] 𝙹𝚄𝚂𝚃 𝙰 𝙳𝚁𝙰𝙵𝚃 𝙾𝙵 𝙼𝚈 𝙼𝙸𝙽𝙳
  • Jo dan Mita (Buaya Vs Macan PMS)- Na Jaemin|| Sudah Terbit Novel
  • Arsyilazka
  • dimana janji tersebut
  • Kelas A [End]

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines