Jaemin bukan koruptor, bukan juga pencuri atau buronan. Tapi dia terus diikuti, dimata-matai, bahkan pernah merasakan dinginnya jeruji besi.
Pemuda itu tahu banyak tentang perbatasan dan ranjau. Kalau kata Donghyuk, mereka adalah penyusup.
Jaemin selalu mengunjungi sebuah pohon di padang rumput dekat sungai, menunggu Donghyuk yang hilang saat penyerangan beberapa tahun lalu.
Jika pohon adalah tujuannya, maka menara di dekat jembatan lah yang ia hindari. Tapi tetap Jaemin lewati karena disana lah kehidupannya.
Dan disana, ia bertemu seorang gadis relawan dari negeri Selatan. Negeri yang menjadi incarannya.
Berusaha mungkin, Jaemin menutupi identitasnya dan mewanti-wanti gadis Selatan itu agar tak melewati menara.
Karena pemuda itu ... mencintainya
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang