Hanya terdengar suara mesin dan juga AC di dalam mobil yang sudah berhenti semenjak lima menit lalu di depan rumah Aya.
Aya menghembuskan napas.
"Aku tadi denger obrolan kamu sama Arya di cafe,"
Dewa terdiam, menunggu Aya melanjutkan.
"Wa, kalau kamu lupa, semua orang punya perasaan. Gak cuma kamu sama Jani. Semua orang juga bisa ngerasain sakit. Gak cuma kamu sama Jani," ucap Aya.
Di sampingnya, Dewa, hanya mendengarkan dengan perasaan bersalah.
"Aku kira masalah kita cuma sekedar kamu yang suka sama Jani. Ternyata lebih dari itu," ucap Aya dengan nada getir. Perempuan itu sudah merasa sesak di dadanya semenjak sore tadi.
"Waktu terus berjalan, Wa. Hidup kamu gak mungkin terus tentang Jani. Kamu harus cari orang lain yang kamu sayang. Dan mungkin, bukan aku,"
Aya menarik napas, "Makasih satu tahunnya, Wa," ucap Aya lalu keluar mobil Dewa dan bergegas masuk ke dalam rumahnya.
Sesampainya di dalam rumah, Aya menangis, mengeluarkan semua yang menyesakan sedari tadi.