Like Vanilla Latte

Like Vanilla Latte

  • WpView
    Lecturas 17
  • WpVote
    Votos 5
  • WpPart
    Partes 3
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación lun, sep 14, 2020
WpInfo
Ficción
Romance
"Tak perlu berlarut-larut dalam kesedihan. Anggap saja ini sudah takdir hidupku. Aku harus menjadi diriku sendiri, walaupun tanpa dia. Aku yakin dia akan bangga akan hal itu. Itu prinsipku. Maaf selama ini aku menyebalkan didepanmu, dan juga terimakasih kamu peduli denganku." Kata Yofan menjelaskan. Yolan terdiam. Kemudian ia mengalihkan matanya, menatap mata elang lelaki di depannya. Sosok lelaki yang tegar, dibalik sikap jailnya yang dilakukan setiap hari. Lucu. Sekuat itu senyuman menutupi masa kelam. Yolan tersenyum. Mata lelaki itu berkaca-kaca. "Apa kamu ingin menangis?" Tanya Yolan. Yolan langsung berpindah duduk di samping lelaki itu. "Hei, menangislah, kadang menangis itu perlu untuk meredakan rasa rindu dan meninggalkan masa kelam, kamu akan merasa lega setelahnya. Aku akan menemanimu." Yolan menatap sendu. Lima detik setelahnya, tangis Yofan pecah. Ia tak mampu membendungnya lagi. Yolan memeluknya. Mungkin dengan pelukan akan memberikan efek tenang secara perlahan, itu yang biasa keluarganya lakukan untuk membuatnya tenang. Kamu sudah menjadi dirimu sendiri dan kamu sudah melakukan yang terbaik. Tetaplah seperti itu.
Todos los derechos reservados
#383
teman
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • IGNITES (END)
  • Katanya Jadi Anak Terakhir Enak - WOONHAK [Terinspirasi dari kisah nyata]
  • IMPERFECT
  • AMOUR (Mr. Pradipta)
  • The Mafia, Mr. Choi
  • Cinta Yg Tumbuh Lewat Rahasia
  • Om, Ayo Nikah!
  • Kakak Tingkat ✔ [COMPLETED]
  • Stres In Life
  • Dia Arsen (END)

(Tersedia Versi eBook) Mendengar namanya saja sudah membuat Wilona bergidik ngeri, apalagi bertemu dengan sosoknya langsung. Mungkin Lona akan kabur begitu melihat bayangannya saja. Jaglion, si cowok paling sadis 'katanya'. Bukan hanya wajahnya yang terlihat dingin, namun sikapnya juga sama. Wilona berharap tidak akan berurusan dengan cowok itu. Dia tidak ingin atmosfernya bersinggungan dengan Jaglion, meski tanpa sengaja. Namun takdir berkata lain. Hari dimana mereka bertemu adalah hari paling sial bagi Wilona. 🏮🏮🏮🏮🏮🏮🏮🏮🏮🏮🏮🏮🏮 "Jadi pacar gue atau jadi buronan?" Tawar Jaglion. "Lebih baik gue jadi buronan daripada harus jadi pacar lo!" Tolak Wilona. "Oke," Jaglion tersenyum smrik. "Gue kasih lo dua kesempatan dalam waktu 24 jam." "Dan gue nggak akan gunain kesempatan itu meskipun lo kasih waktu sampe setahun!" "Ingat, Lona, gue nggak kasih kesempatan itu ke orang lain." "Gue harap gue adalah orang lain itu," kukuh gadis itu. 🏮🏮🏮🏮🏮🏮🏮🏮🏮🏮🏮🏮🏮🏮

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido