Story cover for SUNYI by Dongklow_
SUNYI
  • WpView
    Leituras 68
  • WpVote
    Votos 7
  • WpPart
    Capítulos 4
  • WpView
    Leituras 68
  • WpVote
    Votos 7
  • WpPart
    Capítulos 4
Em andamento, Primeira publicação em jul 13, 2020
Tidak ada yang kebetulan di bumi.
Apa yang kamu jalani hari ini adalah kumpulan dari hasil pilihan-pilihan yang sudah kamu lalui. Hasil jerih payah dari perjalanan panjang yang sudah kamu lintasi. Bentuk nyata dari doa-doa yang pernah kamu panjatkan melintasi angkasa. Berjalanlah sebagaimana kehidupan menyediakan setapaknya jalan.
Jika di depanmu terdapat tebing yang tinggi, mendakilah. Jika curam jurang menguji tabahmu, melompatlah karena pijakan tempat mendaratmu adalah senyuman. Kemudian, berlarilah ketika angkuh waktu ingin membunuh denyut nadimu. Tak perlu banyak bicara sebab kata-kata tak pernah mengubah apa-apa.
Tak perlu beritahu siapa-siapa, sebab sunyi, adalah perasaan yang hanya bisa kamu rasakan sendiri  ...
Todos os Direitos Reservados
Inscreva-se para adicionar SUNYI à sua biblioteca e receber atualizações
ou
Diretrizes de Conteúdo
Talvez você também goste
Lembut Seperti Doa, de FarelArizto
53 capítulos Concluída Maduro
> "Ini bukan tentang cinta yang penuh drama, tapi tentang tenangnya mencintai seorang perempuan yang membuat dunia serasa melambat, setiap kali ia tersenyum. Tentang lelaki biasa, yang jatuh hati bukan karena ingin memiliki, tapi karena ingin menjaga cara Tuhan menciptakan kelembutan." > Dalam buku ini, kamu akan diajak masuk ke hati yang sedang mencintai, tidak dengan gegap gempita, tapi dengan rasa yang diam-diam tumbuh, mengakar dalam, dan tidak pernah ingin pergi. > Ini kisah tentang mencintai seorang wanita yang begitu cantik dan lemah lembut- hingga dunia terasa lebih indah hanya karena ia ada. --- --- Quotes Pembuka "Cinta bukan hanya soal memiliki, tetapi tentang mendoakan dalam diam, menjaga dalam jauh, dan mencintai dalam segala bentuk keheningan." --- Dedikasi Untuk perempuan yang kusebut dalam setiap doaku, yang membuat malamku bersinar lebih lembut, dan hidupku terasa lebih utuh --- Ucapan Terima Kasih Aku ingin berterima kasih kepada Tuhan, yang menghadirkan cinta seindah ini ke dalam hidupku. Untuk perempuan yang menjadi alasan mengapa setiap kata lahir dari ketulusan: kau adalah hujan paling syahdu yang pernah aku doakan. Terima kasih juga untuk diriku sendiri, yang mau tetap percaya pada kekuatan cinta, bahkan di saat dunia terasa sunyi. Untuk kamu yang membaca buku ini - semoga hatimu merasakan hangatnya cinta yang tak harus sempurna untuk disebut abadi. --- Tentang Penulis seorang penulis yang percaya bahwa kata-kata bisa menjadi rumah bagi perasaan yang paling sunyi. Melalui setiap huruf dan kalimat, ia mencoba mengabadikan rasa rindu, bahagia, dan harapan yang seringkali sulit diucapkan. "Lembut Seperti Doa" adalah karya yang lahir dari perjalanan hatinya - sebuah surat cinta untuk seseorang yang ia kagumi dengan segenap jiwa. ---
Talvez você também goste
Slide 1 of 10
Memories in Moon cover
MY LIFE ( ON GOING ) cover
Sekumpulan Sajak yang Berkisah cover
Bond cover
I Told the Moon about You  cover
Bos Galak (ON GOING)  cover
Story of My Life (Kelesah) cover
Lelaki di Tahun 2011 [DONE✔️] cover
Lembut Seperti Doa cover
SELENOPHILE cover

Memories in Moon

13 capítulos Concluída

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?