The Red Line

The Red Line

  • WpView
    Reads 240
  • WpVote
    Votes 31
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jul 23, 2020
Cerita Fantasi tentang seorang siluman rubah yang ditakdirkan untuk menciptakan perdamaian yang sesungguhnya di Ignacia. Namun jalan yang harus ditempuhnya harus menghadapi banyak rintangan. Akankah dia berhasil melewati rintangan walaupun harus mempertaruhkan segalanya? (Hah... Gak ada yang akan perduli sama sinopsis murahan kayak gini) Daripada buang-buang waktu langsung saja baca ceritanya. (Kalau jelek maklumi saja, karena ini novel pertama yang kubuat seumur hidup. Tapi kritik kalian akan jadi tolak ukur untuk semuanya. Jadi leave comment kalo ada salah kata atau rancu) Motto : Hiduplah walaupun kehidupan tidak menerimamu.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • I'm More Than Just A Princess
  • Painful Reality
  • Becoming A Mother Of Twins After Leaving Experimental Laboratory
  • ALZEA (TERBIT)
  • Behind the Chill of the Night Wind (HIATUS)
  • INSOMNIA - it supposed to be a love letter (complete)
  • Villainess Illusion
  • My Cold Husband [TERBIT]
  • Va in Soarta ✓ [TERBIT]

[Completed] Seorang gadis wibu bangun di tubuh puteri yang terabaikan. Steffani Alina, seorang gadis biasa yang menyukai para lelaki dua dimensi buatan Jepang itu tidak tau apa yang tengah terjadi padanya. Ia meninggal dalam kecelakaan tabrak lari sepulang membeli 'kebutuhan' wibunya. Namun saat ia membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah kamar mewah bernuansakan emas dengan kombinasi warna putih. Namun entah kenapa meski terlihat megah, kamar itu nampak tidak terurus. "tempat apa ini?!" ucapnya seraya menoleh ke kanan dan kiri dengan panik. Ia segera beranjak dari kasur megah itu, hendak keluar dari kamar yang begitu asing baginya. Namun saat ia melewati cermin besar yang berada di dekat kasur, betapa terkejutnya ia saat melihat pantulan dirinya di cermin. "in-ini... ini bukan aku!" ucapnya terkejut seraya menyentuh wajah cantik itu. Rambut pirang berkilau bagai kain sutera yang terbuat dari emas, mata sebiru langit di siang hari, kontur wajah kecil sempurna, bibir ranum merah muda alami, hidung bangir dan bentuk tubuh ideal. Sungguh impian para kaum hawa. ---//--- Namun semua itu tidaklah berarti, setelah ia mendapat memori dari si pemilik tubuh yang asli. "Isandra... sedih sekali hidupmu. Kematian mereka bukan salahmu, makhluk itu juga bukan keinginanmu" lirihnya. Namun sekian detik kemudian, matanya berkilat tajam, "aku harus merubah semuanya" ucapnya geram. ---//--- "hei, apa yang kau lihat?" tanya pemuda bersurai seputih awan dan mata sebiru langit. "Go-Gojo..." "hah? apa itu Gojo?" tanya pemuda itu penasaran saat Isandra menatapnya tanpa berkedip, seolah tengah melihat keajaiban. ---//--- "ya, Yang Mulia?" ucap Isandra. "... kapan kau akan memanggilku 'ayah'?" tanya Galen blak-blakan. "ya! Kenapa hanya Evan yang kau panggil kakak? aku juga kakakmu tau!" seru Percy. Isandra nampak kebingungan dan terkejut di saat yang bersamaan, 'kenapa jadi begini?!' batinnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines