ANTOLOGI CERPEN

ANTOLOGI CERPEN

  • WpView
    Lecturas 77
  • WpVote
    Votos 4
  • WpPart
    Partes 3
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación vie, jul 24, 2020
WpInfo
Ficción
Romance
Sudah cukup lama ia duduk disana ditemani sebuah ukulele, pena, dan sesuatu yang nampaknya seperti buku tulis. Bolak balik ia menulis dan mencoret di buku itu. Sesekali kudengar ia berdecak, sesekali juga aku mendengar ia menyenandungkan potongan kata diiringi petikan jari pada ukulelenya. Mungkin itu akan menjadi bakal liriknya. Hampir dua minggu lebih ia mengunjungi kafe ini, memesan minuman yang sama, duduk di sudut kafe yang temaram namun tetap terdapat cukup cahaya untuk menikmati aktivitas di sudut kafe tersebut saat menjelang malam. Ia selalu duduk menghadap matahari kala senja. Ya, pemandangan di pinggir pantai saat matahari menyampaikan salam perpisahannya untuk hari ini, cukup untuk memberi penghiburan bagi para pengunjung disini. Termasuk dirinya. Namun bagiku, parasnya yang amnis lebih menghibur diriku, ditambah terpaan semburat jingga tersebut, membuat dirinya lebih bersinar.
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • PROSA "Proyeksi Rasa" [END]
  • Hitam Putih Cinta [Terbit Ebook]
  • My Barista Boy(Friend)
  • Is LOVE
  • Gadis Tteokbokki & Cowok Mochaccino (DITERBITKAN)
  • TRY
  • Gue, Matcha dan si Mantan Stalker
  • Bukan Stalker [TAMAT]

Bagi Alfira, persahabatan adalah ikatan tanpa komitmen. Sedangkan sahabat adalah makhluk Tuhan yang siap mendengarkan keluh kesahmu dan memberi solusi dari masalah kehidupanmu. Tapi keadaan memang tidak pernah bisa diprediksi, apa yang dimiliki juga bisa kapan saja pergi. Ketika sahabatnya pergi, Alfira benar-benar kehilangan arah tanpa arti, butuh adaptasi lagi untuk sembuh dari elegi. "Cuma lo Ra! yang menganggap persahabatan ini bukan apa-apa. Ya cuma lo!" ucap Reza kecewa. Namun, ketika semuanya kembali mampukah Alfira berdamai dengan hati? Butuh waktu yang lama untuk sembuh, butuh keadaan yang seirama untuk menempuh. Tapi, bagaimana jadinya jika aku sudah berhasil berlabuh, dengan mudahnya kau kembali dan karamkan lagi kapalku? "Kalo nggak mau jadi pacar gue oke gue terima lo tolak, tapi kalo gue lamar gimana?" ucap laki-laki yang ada dihadapannya. Lalu apa-apaan kali ini? Dengan berani dan percaya diri tingkat tinggi, dia menawarkan diri menjadi awak kapalku? Yang aku yakin, dia pasti mampu membantuku. Namun, bisakah aku melupakan masa lalu? Dan kembali menempuh perjalanan baru?

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido