Mestika Rakata - Lembuswana

Mestika Rakata - Lembuswana

  • WpView
    LECTURAS 162
  • WpVote
    Votos 35
  • WpPart
    Partes 2
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mié, jul 15, 2020
Lembuswana yang selama ini tak pernah meninggalkan Sungai Mahakam kini harus pergi ke pulau seberang. Musuhnya telah bangkit, Nusantara dalam bahaya. Berbekal petuah Sang Guru, Lembuswana menuju ke Gunung Krakatau. Namun, perjalanannya tidak semudah yang dibayangkan. Beberapa kali ia dihadang oleh antek-antek musuhnya. Apakah Lembuswana berhasil mengalahkan musuhnya? Apa dia bisa kembali ke Sungai Mahakam?
Todos los derechos reservados
#325
pertempuran
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Dark Tales From Deep In The KEBUN DJENGKOL (TAMAT)
  • ANTIROM: The Marionette ✓
  • Hujan di Malam Hari✔
  • Moon Promise
  • Alverina Swordman
  • ONE NARA
  • Prambanan Obsession (END)
  • Lain Dunia (Tamat)
  • Mahkota Berdarah

(BASED ON TRUE EVENT) **** Ini adalah kisahku saat mengikuti perkemahan PMR Regional provinsi. Dimana lokasi yang ditempati merupakan tempat pembantaian terbesar PKI dimasanya. Kisah kelam korban di masa lalu membentuk entitas kengerian ditempat itu. Sosok-sosok yang masih tak terima saat dibantai karena ketidakadilan memenuhi lokasi area bekas Belanda tersebut. Disini mereka menanti. "Kebun Djengkol". **** BRAKKK... Tiba-tiba pintu itu menutup dengan sendirinya. Spontan aku yang kaget langsung berlari menjauhi. Ketika melewati tembok jalan keluar bilik kamar mandi, aku tak sengaja menabrak seseorang. "Cuk!!!" Awalnya pemuda itu sempat marah, namun ekspresinya berubah saat melihat wajahku yang sudah pucat pasi. Aku pun bengong sepersekian detik. Bukan, bukan karena terpesona melihat wajah orang tampan layaknya adegan film-film romantis remaja. Namun aku berusaha menenangkan diri dari sisa ketakutan. Pemuda itu menatapku dengan ekspresi yang susah dimengerti. "Kamu nggak apa-apa?" tanyanya kemudian. "Nggak apa-apa. Maaf nggak sengaja nabrak". "Kenapa? Habis liat hantu ya?" "Ah ituu ..." "Kuntilanak ma setan bocahnya masih ngeliatin kamu tuh." Ucapnya santai. Dadaku kembali berdegup kencang sambil mengumpat lirih. Kini aku ganti memandangnya lekat. Dan pemuda itu membalas reaksiku dengan menyipitkan mata. "Apa?" Tanyanya kemudian. "Kamu bisa liat kan 'mereka' kan?" "Liat apa?" Aku sedikit melangkah mendekatkan diri sembari berbisik "Demit" Pemuda itu sempat terbahak. Lalu tiba-tiba menjulurkan sebelah tangannya. "Aku Aji." ****

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido