Pop Out

Pop Out

  • WpView
    Reads 129
  • WpVote
    Votes 28
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadComplete Fri, Jul 17, 2020
Apa yang akan kalian lakukan jika berhadapan dengan orang bersayap atau makhluk merah bertanduk? Apakah berdiri ketakutan? Atau meratapi nasib yang sungguh malang? Atau mungkin menyiapkan sepiring makanan hangat yang tidak ada di dunia mereka? Semua bisa terjadi di kedai kecil itu. Kedai makan yang telah berdiri ribuan tahun dan menjamu kedua ras makhluk asing tersebut. Hingga Tony--pengangguran yang melamar kerja di sana--tiba dengan segala kesialannya. Lalu, cerita perjalanan Tony dalam menghadapi keanehan mereka dimulai. [Short story by Raylone] [18/7/2020] [Fantasi-Slice of life]
All Rights Reserved
#306
fantasiindonesia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rasa di Dunia yang Terlupakan
  • ANTIROM: The Marionette ✓
  • Eira The Last Dhampir
  • CATATAN HARIANKU
  • My Mate Is Little Wife (Selesai)
  • Moonlight [ REVISI ]
  • Alluring Secret [END]
  • EXIMIA
  • Nolan

Di ujung lorong dunia yang tak terjamah peta, berdirilah sebuah restoran kecil-hangat, remang, dan ajaib. Tak ada papan nama, tak ada antrean manusia. Namun malam demi malam, kursi-kursi kayu diisi oleh tamu-tamu dari kisah yang terlupakan: Banshee yang menangis dalam diam, Putri Duyung yang kehilangan nada, Gumiho yang menyembunyikan luka, hingga dewa bersayap yang tak sanggup berbicara. Di balik meja dapur, seorang pria memasak bukan untuk perut, melainkan untuk jiwa. Ia tak banyak bicara, namun masakannya menampung kisah dan luka mereka. Di sisinya, seorang wanita bernama Lyra menjadi jembatan antara dunia manusia dan dunia magis-seorang penjaga rasa dan kenangan. Namun restoran ini menyimpan rahasia. Pembayaran tak datang dalam bentuk uang, melainkan item magis penuh arti-dan semakin banyak yang datang, semakin besar bayangan yang menanti. Dulu mereka memasak hanya untuk bertahan hidup. Kini, mereka menyajikan rasa untuk makhluk yang bahkan dunia pun enggan mengingat. Namun... Sampai kapan tempat ini akan bertahan? Dan ketika rasa tak lagi cukup, siapa yang akan memberi arti pada dunia yang perlahan melupakan?

More details
WpActionLinkContent Guidelines