Day With You

Day With You

  • WpView
    Reads 33
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jul 24, 2020
"saya mengenal kamu sejak kamu pertama kali datang ke Restauran saya, Melamarkan diri kamu sebagai waiters" ucap laki-laki di depan wanita berhijab cantik di hadapannya itu. "Maksud bapak apa ya? Selama saya bekerja di sini saya baru bertemu bapak baru-baru ini.. lalu bagaimana bisa bapak mengenal saya?" Tanya wanita itu terkejut dan agak takut di pandang tajam laki-laki di depannya itu. "Apa yang tidak saya bisa?" Balas laki-laki itu menggenggam erat kedua tangan wanita yang nampak bergetar itu. "Bahkan memiliki kamu pun bagi saya itu bukan hal sulit" ucap laki-laki itu tersenyum. Wanita itu benar-benar terkejut. "Saya.. mencintai kamu raya, menikahlah dengan saya" wajah laki-laki itu nampak serius, berbeda dari biasanya yang tajam, keras dan arogan. Day With You
All Rights Reserved
#688
trending
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Don't call it love!
  • Oddly Coupley (Complete)
  • 𝙼𝙰𝙽𝚃𝚄-𝙰𝚋𝚕𝚎✔
  • Please don't get tired of Me
  • Secangkir Kopi & Pencakar Langit (#1)
  • Choose You - PINDAH KE DREAME
  • Beautiful Sunset
  • ❤️KIM MEMORY❤️ 김기억❤️
  • Salah Nikahin

Semesta rasanya tidak berpihak pada Cyntia. Tidak hanya perusahaannya yang sedang berada dibawah roda kehidupan, tetapi neneknya sakit dan terus memaksanya menikah. Orang yang ia cintai dan mencintainya pun hilang tak ada kabar. Tak ada pertolongan rasanya. Pada akhirnya pilihan terburuk muncul. Ah, mungkin tak bisa disebut pilihan. Ia harus melakukan itu dengan terpaksa. Pria yang melukiskan kehidupan kelamnya pun muncul. Konyol rasanya saat pria itu mengajaknya menikah. *** Aku tak tahu apa itu cinta. Bahkan, saat ini bagiku itu satu kata yang abstrak luar biasa. Baginya rasa yang terasa itu cinta, tetapi mengapa rasanya merusak jiwa raga. Bagiku itu bukan cinta, melainkan suatu rasa yang amat hampa. Akhirnya satu kata menjadi beda makna. "Bukankah kau sangat membenciku?" Tanyaku. Ia diam, tanpa menatap mataku. Secara tak sadar aku tersenyum sinis padanya dan aku berusaha menahan rasa kesalku. "Apakah melemparkan susu basi ke wajahku adalah bentuk rasa suka?" Aku mengungkit masa lalu. Matanya pun mulai menatap mataku. Aku takut dengan wajah itu. Di bawah meja tersembunyi tangan gemetarku. Mataku berpura-pura tegar saat bertemu matanya itu. Aku berusaha bicara meski lidahku terasa kelu. Aku berusaha berdiri tegak meski kakiku tak berdaya. Waktunya pergi dari hadapannya. Aku akan katakan terakhir kalinya. "Jangan sebut itu cinta!" "Aku melamarmu bukan karena cinta. Bukankah, seharusnya kau yang memohon padaku agar kita bisa memanfaatkan satu sama lain?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines