Cakrawala Bersamaku

Cakrawala Bersamaku

  • WpView
    Reads 32
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 19, 2020
FOLLOW DULU SEBELUM BACA YA :) (Cerita Baru Update) Terkadang aku heran, apa alasan mereka bisa bertahan dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Anehnya mereka juga gak mau jujur dengan rasa yang sebenarnya sangat menyiksa di hati mereka. Bahkan mereka cenderung menyembunyikannya dalam kata "aku baik baik saja". Hey sebecanda itukah mereka mengabaikan rasa? Bukankah itu sama saja dengan melukai diri sendiri? Asumsi itu selalu terngiang dalam memori kecilku, sampai suatu ketika tuhan mendatangkanmu untuk memberi kebahagiaan sekaligus pelajaran dalam hidupku. Kamu melebur dengan semesta, juga dengan duniaku. Kamu sangat kontras dengan keindahan, sampai aku tak sadar bahwa dalam warnamu ada degradasi luka yang teransparan. Tenang sebelum akhirnya aku terjatuh tanpa uluran tangan hangatmu untuk membantuku bangkit. Dan di detik itu aku tersadar bahwa mencintaipun tak punya hak untuk memiliki. "Jika memang kamu datang hanya untuk pergi, lantas kenapa kamu selalu baik kepadaku, sampai kebaikanmu selalu menjadi alasan bahagia terbesarku"_Eliana "jika saya menetap, maka saya nggak akan pernah berhasil mengajari kamu untuk berdamai dengan jarak, waktu bahkan ruang rindu itu sendiri. Dan kamu juga tidak akan pernah merasakan haru dalam satu pertemuan sekaligus perpisahan di detik yang sama"_Shakti
All Rights Reserved
#95
ghea
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Hai, Kak! (END)
  • AFTER (COMPLETE)
  • KITA DAN SEMESTA
  • Friendzone (COMPLETED)
  • Time For Opportunity
  • Maaf' (Revisi)
  • DeaSea
  • Maybe Tomorrow : Penyesalan (On Going)

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines