DEVANO
  • WpView
    Reads 0
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Sep 13, 2020
Ternyata tidak semua hal yang tak pernah diinginkan berakhir buruk. Berawal dari sebuah kesalahan besar yang pernah terjadi di dalam hidup seorang cowok yang paling anti dengan satu hal yang tak pernah terlintas di pikirannya,tapi menyesal pun tiada arti lagi,dari kejadian itu ia hanya bisa mengambil kesimpulan mungkin ini yang terbaik,belajar ikhlas,dan akhirnya ia terbiasa dengan semua itu,bahkan hal tersebut menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan baginya. Yaitu dengan menjadi seorang CHEF!! Tapi semua itu tidak pernah berjalan sesuai ekspetasinya,berawal dari seorang cewek yang membuat onar di hari pertama ia menginjakkan kaki di sekolah barunya Tapiiiiiiiii Tanpa cewek ituuuu.. Yuk langsung baca aja!>_< Happy Reading guys Maaf kalo kata ktanya agak absurd,soalnya ini cerita prtama akuu>< jadi maklum yaa hehe
All Rights Reserved
#205
chef
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kopi & Deadline (On Going)
  • Fuck Boy
  • Overthinking [END]
  • My Senior is My Coldest BoyFriend [Chapter 1 Completed+ Revisi]
  • Alora [On Going]
  • Kamu Yang Terindah ( ORINE ) -END
  • YOUR FREEDOM✓
  • kiara's dream
  • You Are Not Alone [ORINE] END

Bukan karena lambat bekerja, Ara lembur lagi bagai kuda. Ara duduk sendiri di cubicle, mata lelah, kopi sachet ketiga di tangan, layar laptop menyala dengan file yang hampir rampung. Ingatkan Ara sekali lagi bahwa kerjaannya 'hampir rampung'. Dia menatap layar, lalu menarik napas panjang, "Aku nggak tahu lagi ini kerjaan atau penyiksaan... Tapi besok pagi harus submit, kalau nggak... ya biasa, dapat teror halus dari atasan." Dulu waktu kecil, Ara selalu mengganggap orang yang pulang kantor sampai pukul 12 malam atau pagi buta adalah orang-orang keren. Iya keren, keren keramnya sebadan-badan. Ara menarik napas panjang untuk kesekian kalinya, "Aku gila deh kayaknya, masa dulu kerjaan kayak ginian aku bilang keren." Di sela kelelahan itu, Ara mengenang tempat ngopi yang pernah dia datangi dua minggu lalu-tempat yang jarang dia datangi sebelumnya, tapi entah kenapa, wajah sang barista masih lekat di kepalanya. Dia pernah bilang ke dirinya sendiri , "Aku nggak punya waktu buat cinta." Tapi sejak ketemu cowok itu... apa kalimat yang digaung-gaungkan Ara mulai retak? GA MENERIMA NAMANYA PENJIPLAKAN YA EGE, NYARI IDE ITU GA MUDAH‼️

More details
WpActionLinkContent Guidelines