Ini kisah cerita tentang Rameyla, seorang gadis yang amat ambisius. Ia tidak takut apapun kecuali dengan Sang Pencipta dan mamanya. Namun semenjak mengenal Alan ketakutan Rameyla bertambah banyak salah satunya perpisahan. Alan adalah cowok yang memiliki bad first impression di mata Rameyla. Rameyla tidak suka dengan Alan.
Setiap hari mereka selalu berkelahi dan berdebat hal-hal kecil hingga para guru pun lelah melerai. Namun suatu hari mereka menjadi semakin dekat karena Pak Jajar, beliau meminta Rameyla agar mengajari fisika kepada Alan supaya ia naik kelas. Nilai Rameyla sebagai jaminannya.
"Tugas gue itu buat Alan faham fisika, bukan malah ngambil hati gue." Tutur Rameyla gadis yang mengaku turunan dari Albert Einstein.
"Coba aja Bapak Newton tidurnya di bawah pohon pisang, pasti fisika gak serumit ini." Alan membolak-balikan lembaran bukunya.
"Ngomong-ngomong si mey-mey beneran titisan Albert Einstein bukan ya, tapi kok galak banget?" Suara hati Alan yang sedang mencoba menebak rumus apa yang harus ia tuliskan, sesekali ia melirik Rameyla yang ada di depannya.
Apa ya yang membuat Rameyla tidak suka Alan? Padahal Alan kan banyak yang menyukai.
Selamat membaca kisah RAMEYLA. 😚😚
20 Juli 2020
He Wrote My Name Wrong
Wattpad by barelyunknown
SMA Harapan Baru katanya sekolah penuh "cinta pertama". Katanya sih.
Nyatanya? Hari pertama orientasi aja aku udah dapat partner paling nggak ramah sedunia-Raynald Ezra, si cowok tinggi berkacamata yang ngomongnya kayak dosen dan nggak pernah senyum.
Meira Anindya enggak pernah menyangka kalau hari pertamanya di SMA akan dipenuhi kejutan-terutama kejutan bernama Raynald Ezra. Cowok cuek dari kelas sebelah itu bikin Meira salah tingkah sejak insiden kecil di hari MOS. Tapi bukan SMA namanya kalau perjalanan cinta mulus-mulus aja. Mulai dari beda kelas, cewek berhijab yang selalu bareng Ray, sampai kenyataan bahwa Ray punya masa lalu yang belum sepenuhnya ia lepas.
Sementara Meira sibuk memahami perasaannya, Ray juga diam-diam menyimpan rasa-rasa yang belum pernah ia tunjukkan ke siapa pun sejak kehilangan orang terdekatnya. Satu hal yang pasti: keduanya sama-sama belum siap untuk jujur... bahkan pada diri sendiri.
Di antara tumpukan tugas, eskul, dan jantung yang deg-degan tiap ketemu di lorong sekolah, Meira dan Ray belajar satu hal: cinta pertama enggak selalu tentang kata yang sempurna, tapi tentang siapa yang bikin kamu ingin menulis ulang segalanya-termasuk nama seseorang, meski awalnya kamu salah tulis.