Saimara Angelica

Saimara Angelica

  • WpView
    LECTURES 9
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Chapitres 1
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication lun., juil. 20, 2020
Dua anak kecil bermain bersama tanpa perduli hukuman yang akan mereka terima kala kembali kerumah dengan pakaian kotor serta penampilan dekil "Aku capek Ra, kita istirahat dulu ya" Dengan nafas yang tak beraturan Dira menatap kearah Mara sambil tersenyum manis "Apaan kamu lihat-lihat aku"memukul bahu Dira "Sakit tau ngel, aku ngeliat kita dekil banget kayaknya sampai rumah siap-siap deh kita kenak repet kan" "Iya, makanya aku kan tadi bilang ambil airnya sedikit saja biar aku bisa bangun rumah dari pasir datang kamu langsung bawa air banyak-banyak pakai acara ngambil ember dulu kerumah trus nyiramnya sengaja lagi ke akau jadi deh kayak gini" Mara menampilkan ekspresi marahnya "Gak usah marah-marah kali ah, udah ah main lagi yuk"mengenggam tangan Mara "Apaan ah gak mau" "Eheh tenang kita gak main kayak gitu, kita main true or dare yuk, taukan artinya jangan bilang kamu gak tau? Aku taunya ini dari abang aku kemarin dia main kayak gini di kamar sama teman-temannya dan kelihatan seru disitu terlihat siapa kamu sebenarnya orang yang jujur kah atau pemberani"
Tous Droits Réservés
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Brothers
  • ALEZRA (Thank you for coming)
  • VALERIE : NOT AYUNA [ rombak Ulang ]
  • TUBUH GADIS NERD [END]
  • Trasmigrasi Queenzee
  • Transmigrasi MyTia [END]
  • Arsyilazka
  • Secret In Silence
  • Rarendy
  • 27 FEBRUARI
Brothers

"Kay! Pikirin lagi deh ide gila lo ini! Masa gue sama Ray harus pake seragam begituan. Lo sih enak masih pakai seragam Ray. Gue dan Ray gimana?" Aku dan kedua saudara kembarku sedang berdiskusi di kamarku. Ini pernah dilakukan seminggu yang lalu saat Kay mengatakan ide gilanya kepadaku dan Ray. "Gak bisa Fay! Kan udah kesepakatan." Kay itu keras kepala. Mungkin karena merasa lahir lebih dulu, jadi dia selalu ingin menang sendiri. "Tapi kan lo bisa tukeran sama Ray tanpa harus melibatkan gue Kay!" aku protes sedangkan Ray diam saja. Dia benar-benar lamban. Sampai-sampai perempuan yang mendekatinya saja dia tidak menyadarinya. Itu karena kelambanan otak berpikirnya. "Gak bisa Fay sayoong! Ray itu gak bisa basket. Dia itu atlet renang. Jadi selama dia sekolah di tempat gue nanti, dia bakalan kalah terus kalau tanding sama yang lain. Bisa-bisa reputasi gue hancur gara-gara permainan basketnya yang parah." Aku tahu Ray memang tidak suka berlari, karena itu dia tidak suka bermain basket denganku dan Kay. Kalau kita bertiga sedang bermain bersama, Ray lebih memilih menonton aku dan Kay yang sibuk mencuri bola drible. "Lagipula kesepakatan terakhir itu mutlak setelah kita mengundinya. Jadi ini gak bisa diganggu gugat lagi. Besok kita mulai penyamaran. Gue jadi Ray, lo Fay jadi gue, dan Ray jadi lo Fay." Kay sudah memulai sikap otoriternya. Kalau sudah begini, aku dan Ray hanya bisa pasrah. Semoga Ayah dan Bunda tidak menyadarinya. Ayah mungkin tidak akan menyadarinya tapi Bunda sepertinya harus diwaspadai.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu