Story cover for AvAldi by ngelandriana
AvAldi
  • WpView
    Membaca 2,224
  • WpVote
    Vote 589
  • WpPart
    Bab 20
  • WpView
    Membaca 2,224
  • WpVote
    Vote 589
  • WpPart
    Bab 20
Bersambung, Awal publikasi Jul 20, 2020
『ON GOING』

Ava Arunika, cewek yang hidupnya gak pernah jauh dari masalah dan memiliki sikap yang mudah berubah-ubah. Kini, masalahnya harus bertambah ketika mulai 'kembali' dekat dengan Aldineo Trevas.

Aldineo Trevas, cowok yang hidupnya santai kaya di pantai dan selalu dapat apa yang dia mau walau sedikit keras kepala kaya batu. Kini, terombang-ambing ketika menarik ulur hatinya sendiri untuk Ava Arunika.
.
.
.

Mencintai musuh sudah hal yang biasa, bagaimana jika mencintai seseorang yang justru benci pada kita? 

"Loving someone who really hates you is the worst feeling ever."


Bahasa semi-baku
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Daftar untuk menambahkan AvAldi ke perpustakaan kamu dan menerima pembaruan
atau
#238salahpaham
Panduan Muatan
anda mungkin juga menyukai
anda mungkin juga menyukai
Slide 1 of 10
360 and Still Me cover
Laksana Hujan [completed] cover
Kutukan Cinta Pertama cover
Cruel World cover
Semua Tentang Luka [ END ] cover
OUR HEARTS-Keputusan Awal cover
Love Story Of Anna cover
ALGIO [TERBIT] cover
AKARA (Terbit) cover
Cinta di ujung Senja cover

360 and Still Me

5 bab Bersambung

Violetta Lanora Adinata pergi tanpa pamit-meninggalkan cinta pertamanya, sahabat-sahabat yang pernah jadi rumah, dan serpihan kenangan dari masa putih abu-abu yang tak selalu manis. Tak ada kata maaf, tak ada salam perpisahan-hanya kepergian yang sunyi, dibungkus diam yang panjang. Namun waktu, dengan caranya sendiri, menyeretnya kembali ke tanah tempat segalanya bermula. Dan di sana, semesta seolah tak memberinya pilihan lain selain menghadapi apa yang selama ini ia hindari-luka lama, tanya yang tak pernah terjawab, dan cinta yang mungkin belum benar-benar usai. Alvaro Nata Prabawa-tinggi, berwibawa, dengan wajah yang nyaris mustahil diciptakan tanpa sentuhan seni ilahi. Garis rahangnya tegas, hidungnya bangir sempurna, dan sepasang mata tajam yang dapat membuat siapa pun yang ia tatap menjadi membeku dan terpana. Ia menatap gadis di hadapannya dengan tatapan dingin, nyaris menusuk. Tapi yang membuatnya terhenti sejenak adalah kenyataan bahwa gadis itu, gadis bermata hazel yang dulu selalu menatapnya dengan mata penuh kelembutan, kini membalas dengan sorot mata yang sama tajamnya. Sama menusuknya. Seolah waktu telah mengajarkan mereka bagaimana menjadi asing, mereka kini berdiri sebagai dua kutub yang tak saling mendekat, asing dalam bayang-bayang kenangan yang belum selesai.