Bunda Untuk Ayah

Bunda Untuk Ayah

  • WpView
    Reads 4,175,911
  • WpVote
    Votes 173,265
  • WpPart
    Parts 62
WpMetadataReadComplete Sun, Jul 24, 2022
"Yah, aku ingin punya adik," ucap Anin tiba-tiba, matanya berbinar penuh harap. Sang ayah terdiam sejenak, lalu tersenyum samar. "Ayah kan nggak punya istri, Nak. Jadi, bagaimana caranya?" Anin tak kalah cepat menjawab, "Ya menikah lagi, dong, Yah." Ayahnya mengangkat alis. "Menikah sama siapa?" Tanpa ragu Anin berkata, "Sama sahabatku... Alena." Sejak saat itu, dunia sang ayah tak lagi sama. Permintaan polos seorang anak ternyata membuka jalan pada pilihan besar dalam hidupnya: apakah ia mengikuti keinginan Anin, atau justru menolaknya demi menjaga batas antara dirinya dengan sahabat anaknya. ➡️Ini cerita pertama aku jadi maaf jika masih banyak kesalahan dan ceritanya tidak jelas:)
All Rights Reserved
#56
duda
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Menikahi Sahabat Ibuku
  • Cinta pertama Dosen duda (End)
  • Dear Husband [TAMAT]
  • Dosen Killer | END✔
  • Dinikahi Ayah Tiri [END]
  • PAMIT (END)
  • Bunda Nara
  • DUTRA AZALEA (COMPLETED)
  • Maybe Tomorrow : Penyesalan (On Going)

!!!WARNING!!! BACALAH NOVEL INI SENDIRIAN JIKA TIDAK INGIN DI ANGGAP SEBAGAI ORANG GILA! Karena kesalahpahaman, Ana dipaksa menikah dengan seorang pria yang terpaut jauh dengan usianya. Dan siapa sangka, pria yang di nikahinya itu adalah seorang duda anak satu dan parahnya lagi dia adalah sahabat ibunya yang dulu sangat mencintai ibu Ana. Keduanya hidup bagai seekor kucing&tikus, setiap saat ada saja masalah yang diributkan. "Tolong-tolong, ada om-om cabul. Aku mau di nodai, tolong-tolong! Hmppp..." "Saya tadi ingin membopong kamu, karena kamu tidurnya ngebo! Dibangunin berulang kali tidak mempan. Seharusnya kamu seneng, ada yang perhatian sama kamu bukan malah menuduh saya pria cabul!" Sentak Aldi dengan nada membisik di telinga Ana. "Dengar yaa, om-om cabul aku sungguh tidak berharap digendong oleh dirimu. Lain kali gak usah nyari kesempatan dalam kesempitan!" Bentak Ana. "Hei, kamu itu dikasih hati malah ngelunjak minta cinta. Saya tidak minat berbuat lebih pada tubuh kecil, tepos, bodi bambu, depan belakang rata, muka pas-pasan pula. Jadi kaya apa nanti anakku kalo saya nikah dan suka sama kamu." "Heiii, huh huh.." dengan napas tersengal-sengal dan jari menunjuk wajah Aldi. "Siapa juga yang minta cinta dan kawin sama om cabul kaya kamu?! Dasar om-om tua, keriput, pelit, medit, cabul---"

More details
WpActionLinkContent Guidelines